Tekanan Suku Bunga Halangi Harga Emas Tembus US$ 5.000

Tekanan Suku Bunga Halangi Harga Emas Tembus US$ 5.000
Ilustrasi Emas (https://www.thoughtco.com/thmb/til-rAO1UfWs0OJ-Qh5k6bhAgHE=/750x0/filters:no_upscale():max_bytes(150000):strip_icc():format(webp)/closeup-of-big-gold-nugget-511603038-5ad92a97fa6bcc00362b919b.jpg)

JAKARTA – Harga emas naik tipis 0,41% ke US$ 4.505,7 per ons troi, namun tekanan suku bunga tinggi dan kuatnya dolar AS membuat level US$ 5.000 masih sulit diraih pekan ini.

Setelah terpuruk dalam tekanan berat, harga emas dunia mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan pada awal perdagangan Senin, 23 Maret 2026. Kenaikan tipis sebesar 0,41% membawa harga emas ke level US$ 4.505,7 per ons troi, menjadi sinyal awal pemulihan setelah sebelumnya ambles 3,45% pada Jumat, 20 Maret, dan mencatat penurunan lebih dari 10% dalam sepekan terakhir.

Namun para pakar mengingatkan bahwa penguatan ini masih sangat terbatas. Level psikologis US$ 5.000 per ons troi dinilai belum mampu ditembus dalam waktu dekat, mengingat sejumlah faktor penahan masih membayangi pergerakan logam mulia.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap logam mulia masih sangat kuat. Dominasi dolar AS dan kebijakan suku bunga global menjadi penghalang utama bagi harga emas untuk terbang lebih tinggi.

"Jika koreksi berlanjut di awal pekan, harga emas berpotensi menguji support di US$ 4.423,06 per ons troi," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Bahkan jika tekanan tidak mereda, harga emas bisa terseret lebih dalam menuju level support berikutnya di US$ 4.319 per ons troi.

Fenomena perpindahan minat investor dari emas ke dolar AS turut menjadi sorotan Ibrahim. Penguatan indeks dolar yang diperkirakan bergerak di kisaran support 98,73 hingga resistance 101,20 membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven utama untuk sementara waktu.

"Penguatan dolar ini membuat investor sementara beralih dari emas ke dolar AS sebagai aset safe haven," jelas Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kondisi ini memperparah tekanan yang sudah dirasakan pasar emas sejak beberapa pekan terakhir.

Selain faktor mata uang, gejolak di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat turut memperkeruh situasi. Ketegangan geopolitik itu memicu kekhawatiran akan perang darat yang berujung pada lonjakan harga minyak mentah, di mana harga minyak WTI diprediksi bergerak di rentang US$ 93,30 hingga US$ 107,10, sementara minyak Brent berpotensi menembus level US$ 110 hingga US$ 116.

Lonjakan harga energi tersebut berujung pada tekanan inflasi yang memaksa bank sentral mengambil sikap lebih keras. "Situasi ini membuat bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas," tegas Ibrahim, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi teknikal, meski peluang rebound tetap terbuka, harga emas diperkirakan hanya akan menguji level resistance di US$ 4.559,86 hingga US$ 4.681,5 per ons troi. Seandainya terjadi penguatan sekalipun, pergerakan emas masih akan tertahan jauh di bawah level psikologis utama.

"Artinya, dalam sepekan ke depan harga emas masih cenderung bergerak di bawah level psikologis," sebutnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Dengan demikian, pelaku pasar disarankan tetap waspada dan mencermati pergerakan harga emas secara saksama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index