Proyeksi IHSG Mei 2026 Rentan Tapi Berpeluang Rebound

Proyeksi IHSG Mei 2026 Rentan Tapi Berpeluang Rebound
Ilustrasi IHSG https://www.kabarbursa.com/uploads/covers/1775441796-69d317845e7e0.webp

JAKARTA – IHSG Mei 2026 masih rentan namun berpeluang rebound didukung sentimen global dan penurunan harga minyak serta rekomendasi saham pilihan analis.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada awal Mei menunjukkan sinyal pemulihan meski tekanan pasar belum sepenuhnya mereda. Sentimen global menjadi faktor utama yang membentuk arah pergerakan indeks dalam jangka pendek.

IHSG dibuka menguat 1% pada perdagangan perdana di bulan Mei atau pada Senin (4/5/2026). Pada pukul 09.13 WIB, IHSG menguat 1,21% ke 7.041,199.

Kenaikan ini terjadi setelah tekanan signifikan yang terjadi sepanjang April 2026. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati peluang teknikal rebound.

Pada perdagangan di hari terakhir bulan April 2026, Kamis (30/4/2026), IHSG ditutup di level 6.956. Penutupan tersebut turun 2,03% dari perdagangan di hari sebelumnya.

Dalam sebulan, IHSG pun turun 3,17%. Sejak awal tahun, koreksinya tercatat sudah 19,55% year to date (YTD).

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat masih ada potensi perbaikan pasar saham domestik. Sentimen eksternal menjadi pendorong utama optimisme tersebut.

Meredanya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Penurunan harga minyak dunia turut memberikan dampak positif terhadap ekspektasi inflasi.

Dengan turunnya harga minyak, kekhawatiran inflasi pun dapat mereda sehingga ekspektasi kebijakan moneter global menjadi lebih stabil. Kondisi ini membuka ruang bagi IHSG untuk bergerak lebih konstruktif dalam jangka pendek.

“Sentimen risk-off yang sempat mendominasi berpotensi berkurang, sehingga membuka ruang bagi penguatan indeks, meskipun tetap dibayangi volatilitas karena pelaku pasar masih akan mencermati konsistensi deeskalasi konflik tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (3/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi aliran dana, meredanya ketegangan global berpotensi menarik kembali minat investor asing ke emerging markets. Indonesia termasuk salah satu pasar yang berpeluang mendapatkan aliran dana tersebut.

Namun aliran masuk ini diperkirakan masih bersifat selektif dan bertahap. Investor global tetap mempertimbangkan arah suku bunga AS dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Potensi net buy asing mulai terbuka meskipun belum cukup kuat untuk mendorong reli besar. Hal ini membuat pergerakan IHSG masih cenderung terbatas.

Investor asing diperkirakan akan fokus pada saham berfundamental kuat dan likuid. Sektor perbankan dan konsumer menjadi pilihan utama setelah mengalami koreksi cukup dalam.

“Sementara, bagi investor domestik, kondisi ini menjadi momentum untuk mulai melakukan akumulasi bertahap, terutama pada saham-saham unggulan yang valuasinya sudah terdiskon signifikan setelah koreksi year-to-date yang mendekati 20%,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk rentang pergerakan, IHSG pada pekan ini diperkirakan bergerak di kisaran support 6.850–6.900. Sementara itu resistance berada di level 7.050–7.300.

Peluang penguatan menuju area 7.100 terbuka jika sentimen global tetap positif. Namun tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak atau penguatan dolar dapat membalikkan arah pergerakan.

Jika kondisi tersebut terjadi, IHSG berpotensi kembali menguji area support di bawah 6.900. Hal ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase rentan.

Hendra menjelaskan secara historis bulan Mei memiliki kecenderungan volatil. Fenomena “Sell in May and go away” masih sering menjadi acuan investor global.

Dalam beberapa tahun terakhir, IHSG pada bulan Mei cenderung bergerak sideways hingga melemah terbatas. Pergerakan ini biasanya terjadi saat minim katalis domestik yang kuat.

“Oleh karena itu, meskipun peluang rebound jangka pendek terbuka, pergerakan cenderung tidak langsung membentuk tren naik yang solid,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi sektor, rotasi saham diperkirakan mulai terjadi seiring penurunan harga minyak. Saham energi berpotensi mengalami normalisasi setelah sebelumnya diuntungkan oleh kenaikan komoditas.

Sektor perbankan, konsumer, dan properti justru berpeluang mendapatkan sentimen positif. Kondisi ini dipengaruhi oleh sensitivitas sektor terhadap inflasi dan suku bunga.

Investor disarankan untuk tidak terburu-buru masuk penuh ke pasar. Strategi pembelian bertahap dinilai lebih aman di tengah volatilitas.

“Diversifikasi sektor juga penting, dengan kombinasi saham defensif dan siklikal agar portofolio lebih tahan terhadap perubahan sentimen global yang cepat,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hendra menyarankan investor memerhatikan saham LSIP, BUMI, JPFA, dan HUMI pada perdagangan pekan ini. Target harga masing-masing berada di level Rp 1.810 per saham, Rp 268 per saham, Rp 2.730 per saham, dan Rp 226 per saham.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index