Saham BBRI Berpeluang Balik Arah Jika Sentuh Titik Pivot 3.010

Saham BBRI Berpeluang Balik Arah Jika Sentuh Titik Pivot 3.010
Ilustrasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) (https://cms.disway.id/uploads/07667869909f3ca2a15c936650c3199f.jpeg)

JAKARTA – Saham BBRI berpeluang berbalik positif jika menyentuh titik pivot 3.010, dengan resistance di 3.040 dan 3.090, serta support di 2.960 dan 2.930 pekan ini.

Titik pivot menjadi penentu arah bagi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada perdagangan Senin (4/5/2026). Berdasarkan hitungan CGS International Sekuritas, saham BBRI berpeluang mengubah trennya ke positif apabila menyentuh sinyal titik pivot di 3.010.

Jika pergerakan saham BBRI mengarah ke atas, resistance pertama berada di level 3.040 dan resistance kedua di 3.090. Sebaliknya, jika mengarah ke bawah, support pertama berada di level 2.960 dan support kedua di titik 2.930.

Pada perdagangan Kamis (30/4/2026) pekan lalu, saham BBRI tercatat melemah 2,61% ke Rp 2.990. Emiten bank BUMN ini juga mencatat penurunan 5,38% dalam sepekan dengan nilai net sell investor asing sebesar Rp 1,45 triliun.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) juga menyoroti area teknikal yang perlu dicermati untuk saham BBRI, yakni support 2.900–2.850 serta reversal di atas 3.778 (Break MA200). Kondisi ini menjadi acuan penting bagi investor dalam menentukan langkah di tengah tekanan yang masih menyelimuti saham perbankan pelat merah tersebut.

Di tengah tekanan harga, manajemen BBRI menilai pelemahan saham lebih mencerminkan dinamika jangka pendek, bukan cerminan fundamental perseroan. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut pergerakan harga saham BBRI sangat dipengaruhi oleh profil investor, terutama perbedaan antara pelaku jangka pendek dan jangka panjang.

"Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, itu bikin tekanan darah naik turun juga. Kalau investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita. Kalau mau one day trading itu lain, tapi kalau jangka panjang Anda mesti napasnya juga panjang," beber Hery dalam konferensi pers, Kamis (30/4/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hery menegaskan bahwa investor jangka menengah dan panjang, baik untuk 5 tahun, 10 tahun, maupun 20 tahun, bisa membeli saham-saham blue chip yang memiliki fundamental bagus. Menurutnya, investor dengan horizon waktu panjang tidak perlu terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harian, terlebih jika fundamental perusahaan tetap kokoh.

Daya tarik lain yang ditonjolkan manajemen adalah imbal hasil dari dividen BBRI yang dinilai kompetitif. Dengan dividend payout ratio 92% dari laba bersih tahun buku 2025 atau setara Rp52,1 triliun, investor berpotensi memperoleh return yang tinggi.

"Misalnya sekarang, walaupun harga saham BBRI mengalami tekanan sekitar 16-17% (ytd), nggak usah dilihat itu, dividend ratio kami kan cukup bagus ya, paling tidak bisa memberikan 10-11% return per tahun," sambung dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Return dari dividen BBRI disebut lebih kompetitif dibandingkan instrumen investasi lain seperti deposito 7% atau reksa dana pasar uang di kisaran 6%.

Hery menambahkan, selama kondisi makroekonomi global maupun domestik membaik, saham-saham berfundamental kuat juga berpotensi menguat mengikuti pergerakan pasar. Oleh karena itu, pihaknya menyarankan investor jangka menengah dan jangka panjang untuk tetap selektif dan fokus pada saham blue chip dengan kinerja fundamental yang solid.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index