PGE Cetak Pendapatan USD116,5 Juta di Triwulan I 2026

PGE Cetak Pendapatan USD116,5 Juta di Triwulan I 2026
Ilustrasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) (https://img2.beritasatu.com/cache/investor/960x620-3/2024/01/1705773483-780x411.webp)

JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih sebesar USD43,899 juta pada kuartal pertama 2026, tumbuh 40% secara tahunan, dengan kinerja yang dinilai sesuai ekspektasi konsensus namun belum ditopang katalis signifikan dalam waktu dekat.

Hasil ini mencerminkan ketahanan bisnis panas bumi di tengah tekanan global yang masih berlanjut. Pendapatan perseroan pada periode Januari–Maret 2026 tercatat sebesar USD116,555 juta, meningkat 14,8% secara year-on-year (YoY) dibandingkan USD101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Sepanjang Kuartal I-2026, PGE mencatatkan laba bersih sebesar USD43,899 juta. Angka ini meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu USD31,352 juta. Pertumbuhan ini didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan Perseroan. Selain itu, capaian ini juga menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan," ujar Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (29/4/2026).

Fransetya berpendapat bahwa kondisi global yang tidak menentu justru menjadi momentum bagi perseroan untuk mempertegas disiplin keuangan, sekaligus membuktikan kemampuan mempertahankan margin positif secara konsisten di tengah lingkungan operasional yang penuh tantangan.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Maret 2026 tercatat sebesar USD3,06 miliar, naik 0,71% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Ekuitas turut menguat 2,23% menjadi USD2,09 miliar, sementara kas dan setara kas tumbuh 3,72% menjadi USD745,213 juta. Posisi likuiditas yang kokoh ini mencerminkan kemampuan perseroan menjaga ketahanan finansial sambil terus mendanai proyek ekspansi.

Di lini operasional, 2026 menjadi tonggak penting bagi PGEO dalam memperluas portofolio bisnis. Perseroan terus mengakselerasi sejumlah proyek pembangkit panas bumi, termasuk pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2030. Target produksi listrik sepanjang 2026 ditetapkan sebesar 5.255 gigawatt hour (GWh), naik 3,14% dari realisasi tahun sebelumnya.

Meski laporan kinerja ini masuk dalam kategori in-line terhadap proyeksi konsensus, para analis menilai saham PGEO belum memiliki pemicu harga yang cukup kuat untuk mendorong reli signifikan dalam waktu dekat. Absennya katalis jangka pendek yang konkret membuat sebagian besar sekuritas mempertahankan rekomendasi Hold untuk sementara waktu.

Sisi keberlanjutan turut memperkuat narasi pertumbuhan jangka panjang perseroan. PGEO berhasil meraih peringkat ESG tertinggi di Indonesia dengan skor 7,1 dari Sustainalytics, sekaligus menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk daftar Top 50 Global ESG Companies 2025. Pencapaian ini memperkuat daya tarik PGEO di mata investor berbasis lingkungan dan keberlanjutan.

Kondisi global juga memberikan angin segar bagi sektor panas bumi. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode 2025–2034 menargetkan porsi energi baru terbarukan (EBT) mencapai 76%, dengan panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW). Momentum kebijakan ini menempatkan PGEO sebagai salah satu pemain kunci dalam peta transisi energi nasional ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index