PMI Manufaktur China April 2026: Tetap Ekspansif di Level 50,3

PMI Manufaktur China April 2026: Tetap Ekspansif di Level 50,3
Ilustrasi National Bureau of Statistics (NBS) China (https://img.yicaiglobal.com/src/image/2017/10/3468756263370752.jpg)

BEIJING – Aktivitas manufaktur China pada April 2026 tetap ekspansif, PMI NBS 50,3 lampaui ekspektasi. Momentum bertahan meski tekanan tarif dagang global kian membayangi.

Biro Statistik Nasional (NBS) China merilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur bulan April 2026 pada Kamis (30/4/2026), mencatat angka 50,3—berada di atas ambang batas ekspansi dan melampaui estimasi konsensus analis sebesar 50,1. Angka ini turun tipis dari 50,4 yang dibukukan pada Maret lalu, namun tetap mempertahankan status ekspansif untuk bulan kedua berturut-turut usai 2 bulan beruntun berada di zona kontraksi pada Januari dan Februari.

"In April, affected by factors such as a high base from earlier rapid manufacturing growth and a sharp shift in the external environment, the manufacturing PMI fell," ujar Zhao Qinghe, statistikawan senior NBS, dalam pernyataan resmi yang dirilis bersamaan dengan data PMI, Kamis (30/4/2026).

Zhao Qinghe menambahkan bahwa tekanan eksternal yang dimaksud terutama bersumber dari perubahan signifikan kondisi perdagangan global, termasuk tarif balasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap produk-produk manufaktur China, yang mulai terasa dampaknya terhadap pesanan dan produksi di lapangan.

Salah satu sub-indeks yang paling menjadi perhatian adalah pesanan ekspor baru, yang mencatat penurunan tajam menjadi 44,7 dari 49,1 pada bulan sebelumnya. Angka ini mencerminkan dampak konkret kebijakan tarif yang diberlakukan Washington, di mana sejumlah pembeli dari Amerika Serikat menahan pembelian atau mengalihkan pesanan. Sementara itu, sub-indeks produksi masih bertahan di zona ekspansi, menopang angka PMI keseluruhan agar tidak tergelincir ke bawah level 50.

Di sisi survei sektor swasta, PMI Manufaktur Caixin/RatingDog untuk April 2026 juga mengejutkan pasar dengan hasil yang lebih baik dari perkiraan, yakni masih bertahan di zona ekspansi pada level 50,4. Angka ini melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan survei berbasis perusahaan swasta dan berorientasi ekspor ini justru akan underperform, mengingat komposisi sampelnya yang lebih banyak mencakup eksportir dan perusahaan swasta yang paling terdampak tarif.

Sebagai konteks, PMI Manufaktur NBS China sempat terpuruk ke level 49,3 pada Januari 2026 dan terus menyusut ke 49,0 pada Februari—level terendah sejak Oktober 2025—sebagian besar diakibatkan gangguan produksi selama libur panjang Tahun Baru Imlek. Pemulihan kemudian terjadi pada Maret dengan lonjakan ke 50,4, level terkuat sejak Maret 2025, didorong oleh belanja pemerintah yang lebih agresif di awal tahun serta permintaan ekspor terkait kebutuhan teknologi AI global.

Tekanan harga bahan baku turut tercatat pada data April. Sub-indeks harga beli bahan baku turun ke 47,0, level terendah dalam 22 bulan, sementara sub-indeks harga pabrik (ex-factory price) merosot ke 44,8, terendah dalam 7 bulan. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa tekanan deflasi di sektor manufaktur berpotensi menguat jika permintaan dari AS terus terpangkas akibat perang tarif yang masih berlangsung.

PMI non-manufaktur NBS—yang mencakup sektor jasa dan konstruksi—turun tipis ke 50,4 dari 50,8 pada Maret, namun masih bertahan dalam zona ekspansi untuk bulan ke-28 berturut-turut. Sektor jasa terbukti lebih terlindungi dari dampak tarif karena orientasinya yang lebih besar ke pasar domestik, meski permintaan sisi dalam negeri juga mulai menunjukkan pelunakan.

Secara keseluruhan, data April memberikan gambaran bahwa China berhasil mempertahankan momentum ekspansi manufaktur meski berada di bawah tekanan ganda: tarif AS yang belum mereda di satu sisi, dan tekanan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah di sisi lain. Para analis memperkirakan data perdagangan April akan menjadi tolok ukur penting berikutnya untuk mengukur seberapa dalam tarif tersebut benar-benar menggerus volume ekspor China ke Amerika Serikat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index