Fed Hawkish dan Blokade Iran Pukul Rupiah ke Rp17.373/USD

Fed Hawkish dan Blokade Iran Pukul Rupiah ke Rp17.373/USD
Ilustrasi Rupiah (https://imgcdn.espos.id/@espos/images/2025/07/20250710163959-rupiah2.jpg?quality=60)

JAKARTA – Rupiah makin merosot ke Rp17.373/USD dipukul sikap hawkish The Fed dan keputusan Trump perpanjang blokade Selat Hormuz hingga ada kesepakatan nuklir Iran.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (30/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.12 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.373 per dolar AS, melemah 47 poin atau 0,27% dibandingkan penutupan Rabu (29/4) di Rp17.326 per dolar AS.

"Kenaikan indeks dolar AS merespon hasil FOMC yang secara umum hawkish, dan harga minyak dunia yang kembali naik setelah Trump mengatakan akan terus memblokade Hormuz hingga ada kesepakatan nuklir," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp pada Kamis (30/4/2026).

Lukman Leong menjelaskan, pelemahan rupiah pagi ini disebabkan oleh kekhawatiran investor seputar prospek perdamaian di Timur Tengah yang semakin suram setelah Washington menolak tawaran Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pada Rabu (29/4) malam waktu setempat, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan dengan voting 8 berbanding 4 untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Ini merupakan pertama kali sejak Oktober 1992 sebanyak 4 anggota FOMC menyatakan dissent, mencerminkan perdebatan sengit di tubuh bank sentral AS mengenai arah kebijakan ke depan di tengah memanasnya konflik geopolitik.

Pertemuan tersebut sekaligus menjadi pertemuan terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed sebelum digantikan Kevin Warsh yang telah dikonfirmasi Komite Perbankan Senat AS. Dalam konferensi pers usai rapat, Powell menegaskan bahwa harga minyak yang tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan dalam jangka pendek, sinyalemen hawkish yang langsung memperkuat dolar AS di pasar global.

Eskalasi blokade AS di Selat Hormuz menambah beban bagi rupiah. Axios melaporkan Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur laut tersebut dan menegaskan blokade angkatan laut akan tetap berlaku sampai tercapai kesepakatan yang merespons kekhawatiran Washington terkait program nuklir Iran. Pernyataan ini langsung menyulut lonjakan harga minyak dunia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,17% menjadi USD107,16 per barel, sementara minyak acuan Brent melejit 6,78% menjadi USD118,80 per barel.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel membawa risiko berlapis: membesarnya inflasi impor, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak dan gas, serta potensi pembengkakan beban subsidi energi yang dikhawatirkan menekan postur fiskal pemerintah.

Dalam proyeksi ekonomi terbaru yang dirilis bersama keputusan FOMC, The Fed merevisi naik proyeksi inflasi personal consumption expenditures (PCE) menjadi 2,7% untuk 2026, dari sebelumnya 2,4% pada Desember 2025. Proyeksi inflasi inti juga ikut dikoreksi ke atas menjadi 2,7% dari 2,5%, menandakan bahwa bank sentral AS semakin waspada terhadap tekanan harga yang datang dari kenaikan energi dan dampak konflik Timur Tengah terhadap rantai pasok global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index