JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR) catat laba bersih hanya Rp643 miliar di kuartal I 2026, anjlok 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dipicu beban non-recurring dari pembayaran PPKH dan penurunan nilai investasi SERD.
Kinerja keuangan perseroan pada tiga bulan pertama 2026 jauh meleset dari ekspektasi analis. Sebelumnya, Indopremier Sekuritas memproyeksikan laba bersih UNTR di kisaran Rp3,2 triliun pada kuartal I 2026, dengan asumsi tidak ada tekanan tambahan dari segmen mineral.
Corporate Secretary United Tractors, Ari Setiyawan, menjelaskan penurunan signifikan itu berpangkal dari beberapa faktor sekaligus. "Penurunan pendapatan bersih terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026," ujar Ari, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Ari menambahkan, meskipun terdapat beberapa tekanan, ada sisi yang sedikit mengimbangi pelemahan tersebut. Segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi mencatatkan peningkatan pendapatan berkat harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Secara keseluruhan, pendapatan bersih konsolidasian perseroan tercatat Rp28,6 triliun, menyusut 17% dibandingkan Rp34,3 triliun pada kuartal I 2025. Segmen mesin konstruksi menjadi salah satu yang paling terdampak dengan pendapatan melorot 31% menjadi Rp7,5 triliun, sedangkan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya amblas 76% menjadi Rp692 miliar.
Selama kuartal pertama 2026, perseroan mencatat non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun. Beban ini terdiri dari 2 komponen utama: pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate, dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi di PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD).
Jika non-recurring charges dikesampingkan, laba bersih perseroan sejatinya mencapai Rp1,8 triliun. Namun angka ini pun masih merosot 44% secara tahunan, mencerminkan betapa dalamnya tekanan operasional yang dihadapi UNTR sepanjang periode Januari–Maret 2026.
Kabar lebih baik datang dari sisi perizinan tambang emas Martabe. Per Maret 2026, PT Agincourt Resources telah mengantongi persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk melanjutkan operasional Tambang Martabe di Tapanuli Selatan, yang sempat terhenti dan menjadi salah satu biang keladi hilangnya pendapatan emas perseroan.
Dari sisi neraca, posisi keuangan perseroan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Per 31 Maret 2026, UNTR mencatat utang bersih sebesar Rp5,5 triliun dengan net gearing ratio 5%, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun yang digenggam per 31 Desember 2025. Pergeseran ini dipicu oleh aktivitas akuisisi tambang emas dan program buyback saham yang diperpanjang hingga 30 Juni 2026 dengan nilai Rp2 triliun.