JAKARTA – Harga saham GOTO yang berada di level rendah berpotensi menguat seiring proyeksi capaian laba bersih perdana pada laporan keuangan kuartal I tahun 2026.
Kondisi pasar modal saat ini memberikan perhatian khusus pada pergerakan emiten teknologi raksasa di tanah air. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO dinilai memiliki daya tarik tersendiri mengingat posisinya yang masih berada di kisaran harga minimal.
Capaian keuangan perusahaan pada 3 bulan pertama tahun ini diproyeksikan berada dalam jalur yang positif.
“Memang ada risiko makroekonomi dan gejolak eksternal yang mempengaruhi harga energi global, tetapi dengan basis pelanggan menengah atas yang kuat yang tidak price sensitif,” jelasnya Senin (27/4/2026).
Kafi Ananta selaku Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa unit bisnis layanan pesan antar dan teknologi keuangan memiliki ketahanan yang cukup solid.
Kedua sektor tersebut diperkirakan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.
“Strategi Gojek adalah segmentasi pelanggan yang tepat lewat balancing segment affluent dan mass market. Sementara, Fintech fokus pada mendorong pertumbuhan pengguna bertransaksi” kata dia.
Optimisme terhadap emiten ini juga didukung oleh fondasi operasional yang dianggap sudah sangat mapan untuk menghadapi tantangan ekonomi selama 12 bulan ke depan.
Target EBITDA grup yang disesuaikan pada angka Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun dianggap masih sangat realistis untuk dicapai.
Berdasarkan data yang dihimpun dari konsensus analis Bloomberg, perusahaan teknologi ini diprediksi mampu mencatatkan hasil laba bersih yang menggembirakan.
Sebanyak 8 analis memperkirakan GOTO berpotensi membukukan laba bersih di kisaran Rp 288 miliar hingga Rp 1,1 triliun untuk keseluruhan di 2026.
Pencapaian pada akhir tahun sebelumnya menunjukkan bahwa pendapatan bersih perusahaan mampu menyentuh angka Rp 5 triliun.
Kenaikan tersebut setara dengan pertumbuhan 19 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
EBITDA yang disesuaikan juga menunjukkan tren yang sangat positif dengan peningkatan mencapai 106 persen.
Meskipun masih mencatatkan rugi bersih pada kuartal 4 tahun 2025 sebesar Rp 505 miliar, namun angka tersebut sudah menunjukkan perbaikan fundamental sebesar 45 persen.
Pada penutupan perdagangan terakhir, instrumen investasi ini berada di level 53 atau mengalami kenaikan sebesar 1 poin.
Pergerakan ini mencerminkan apresiasi pasar sebesar 1,92 persen dalam kurun waktu satu hari perdagangan saja.
Jika ditarik garis sejak awal tahun, fluktuasi harga instrumen ini memang telah terkoreksi sebanyak 16 poin atau sekitar 23,19 persen.
Kehadiran laporan kinerja kuartal 1 yang dijadwalkan rilis pada hari ini diharapkan menjadi katalis positif bagi para pemegang saham.