Bank Jago ARTO Diproyeksi Lebih Selektif Kelola Kredit Tahun 2026

Bank Jago ARTO Diproyeksi Lebih Selektif Kelola Kredit Tahun 2026
Ilustrasi Bank Jago (https://infobanknews.com/wp-content/uploads/2023/08/IMG-20230801-WA0011-jpg.webp)

JAKARTA – Bank Jago (ARTO) diprediksi akan menerapkan langkah lebih hati-hati dalam penyaluran kredit pada 2026 guna menjaga kualitas aset dan menekan biaya pencadangan.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika pasar keuangan yang menuntut pengelolaan risiko lebih ketat. Selektivitas dalam memilih debitur diharapkan mampu memperkokoh fundamental bank digital ini dalam jangka panjang meskipun berdampak pada kecepatan ekspansi.

"Kami memperkirakan Bank Jago akan bersikap lebih hati-hati dalam penyaluran pinjaman pada 2026 untuk memprioritaskan kualitas aset dibandingkan pertumbuhan volume," tulis analis dalam risetnya sebagaimana dikutip dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).

Kebijakan manajemen ini memicu reaksi dari para pelaku pasar dan analis sektor perbankan yang mulai mengalkulasi ulang potensi keuntungan perusahaan.

Penyesuaian ekspektasi laba bersih menjadi konsekuensi logis dari melambatnya penyaluran kredit yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan utama.

"Melihat pergeseran strategi ini, kami memangkas proyeksi laba bersih ARTO untuk tahun penuh 2026 sebesar 12 persen menjadi 1,1 triliun rupiah," lapor riset tersebut melalui indopremier.com.

Dampak dari revisi turun proyeksi laba ini juga merembet pada penilaian harga wajar saham di lantai bursa.

Target harga saham yang sebelumnya dipatok lebih tinggi kini mengalami koreksi untuk menyesuaikan dengan realitas operasional yang lebih konservatif.

"Seiring dengan penurunan estimasi laba, kami menurunkan target harga saham ARTO dari semula 3.500 rupiah menjadi 3.100 rupiah per lembar," ungkap laporan analis yang dilansir indopremier.com.

Meskipun terdapat pemangkasan target, kualitas kredit bank digital ini dinilai masih berada dalam rentang yang aman dan terkendali.

Rasio kredit bermasalah diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan tajam karena proses kurasi nasabah yang kini semakin diperketat.

"Rasio non-performing loan (NPL) diproyeksi tetap stabil di bawah 2,5 persen berkat kebijakan penyaluran yang lebih selektif melalui ekosistem mitra," jelas riset di indopremier.com.

Manajemen bank tetap optimistis bahwa efisiensi biaya dana akan membantu menjaga margin bunga bersih di level yang kompetitif.

Penguatan integrasi dengan ekosistem digital menjadi kunci utama dalam menghimpun dana murah dari masyarakat secara lebih masif.

"Fokus pada CASA (Current Account Saving Account) akan tetap menjadi pilar utama dalam menekan cost of fund di tengah persaingan perbankan digital," tulis indopremier.com mengakhiri ulasannya.

Keputusan untuk bergerak lebih hati-hati dianggap sebagai langkah pendewasaan model bisnis bagi bank digital sebesar ARTO.

Keberlanjutan profitabilitas kini menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar mengejar angka pertumbuhan aset yang agresif namun berisiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index