Indeks DXY Melemah Akibat Ketidakpastian Damai Antara AS dan Iran

Indeks DXY Melemah Akibat Ketidakpastian Damai Antara AS dan Iran
Ilustrasi DXY (https://blog-roboforex-com.translate.goog/wp-content/uploads/2021/04/12-1-768x432.jpg?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs)

JAKARTA - Pergerakan Indeks DXY atau Greenback terpantau mengalami tekanan di pasar uang global menyusul adanya ketidakpastian dalam proses pembicaraan damai antara AS dan Iran.

Situasi di pasar valuta asing saat ini mencerminkan keraguan para investor terhadap stabilitas geopolitik yang selama ini menjadi penopang nilai tukar. Sejumlah mata uang utama lainnya mulai memanfaatkan momentum ini untuk melakukan koreksi positif setelah sempat tertahan oleh dominasi dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.

"The DXY index is showing significant volatility as traders react to conflicting reports regarding the progress of the US-Iran peace talks," ujar pengamat pasar uang, Heru Prasetyo, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/04/2026).

Heru Prasetyo menekankan bahwa selama belum ada kesepakatan tertulis yang jelas, mata uang dolar akan terus berada dalam posisi rentan terhadap aksi jual.

Pelaku pasar saat ini lebih memilih untuk mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman guna menghindari risiko kerugian akibat fluktuasi tajam.

"Investors are reassessing their positions in the greenback as the lack of clarity in diplomatic efforts dampens market sentiment," ungkap laporan harian pasar modal dikutip melalui indopremier.com, Senin (27/04/2026).

Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa pergerakan euro dan yen Jepang mulai menunjukkan penguatan tipis sebagai respons atas pelemahan indeks dolar.

Kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat yang sedang menghadapi tantangan inflasi turut memperberat langkah mata uang tersebut untuk kembali ke level tertingginya.

Sutrisno berpendapat bahwa interaksi antara kebijakan moneter bank sentral dan kondisi politik global menjadi faktor penentu arah pergerakan kurs dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, ada harapan bahwa jika pembicaraan damai menunjukkan progres positif, permintaan terhadap aset berisiko akan kembali meningkat secara perlahan.

"Any breakthrough in the negotiations could quickly stabilize the dollar and restore confidence in global trade activities," kata analis valas, Maria Ulfa, melansir dari indopremier.com, Senin (27/04/2026).

Maria Ulfa menambahkan bahwa fokus pasar tidak hanya tertuju pada Iran, namun juga pada data ekonomi makro yang akan dirilis oleh otoritas keuangan dalam waktu dekat.

Ketidakpastian ini diperkirakan masih akan membayangi perdagangan valuta asing hingga terdapat pernyataan resmi dari kedua belah pihak yang bersangkutan.

Beberapa manajer investasi menyarankan untuk tetap memantau rilis berita global secara berkala guna mengantisipasi perubahan tren yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

Langkah antisipatif sangat diperlukan mengingat sensitivitas pasar uang terhadap isu perdamaian dan keamanan internasional sangat tinggi pada tahun 2026 ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index