JAKARTA – Lembaga keuangan global Goldman Sachs resmi menaikkan proyeksi harga minyak dunia setelah melihat indikasi pengetatan pasokan di pasar energi internasional.
Revisi ini mencerminkan kondisi fundamental pasar yang masih menghadapi tekanan besar pada sisi ketersediaan stok bahan bakar mentah.
Daan Struyven selaku Kepala Riset Komoditas Goldman Sachs memberikan penjelasan mengenai angka target terbaru untuk harga minyak mentah global.
"Goldman Sachs kini menaikkan perkiraan harga rata-rata minyak mentah Brent untuk sisa tahun 2026 menjadi US$95 per barel," ujar Struyven, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Keputusan untuk memperbarui outlook tersebut didasarkan pada data konsumsi yang tetap stabil meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi.
Permintaan dari negara-negara berkembang terlihat memberikan dukungan yang kuat terhadap pergerakan harga di papan perdagangan internasional.
Daan Struyven menguraikan penyebab utama di balik ketimpangan yang terjadi antara sisi permintaan dan penawaran saat ini.
"Kami melihat adanya potensi defisit pasokan yang lebih besar dari perkiraan awal akibat pemangkasan produksi yang terus berlanjut," ujar Struyven, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Selain jenis Brent, proyeksi untuk minyak mentah West Texas Intermediate juga mengalami penyesuaian angka ke level yang lebih tinggi.
Pasar bereaksi terhadap laporan ini dengan pergerakan harga yang cenderung merangkak naik pada sesi pembukaan perdagangan hari ini.
Cadangan minyak strategis di beberapa wilayah dilaporkan berada pada titik terendah dalam beberapa periode terakhir.
"Pasokan yang sangat ketat di pasar fisik menjadi alasan utama kami untuk tetap optimis terhadap kenaikan harga komoditas energi ini," ujar Struyven, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Faktor risiko geopolitik di wilayah penghasil minyak utama juga turut menjadi variabel penting dalam perhitungan para analis Goldman Sachs.
Keterlambatan investasi pada infrastruktur ekstraksi baru diperkirakan akan memperlama durasi keketatan pasokan di pasar dunia.
Daan Struyven berpendapat bahwa keseimbangan pasar yang baru hanya akan tercapai jika terdapat peningkatan kapasitas produksi yang signifikan dari produsen non-OPEC.
Langkah antisipasi dari para pelaku industri manufaktur kini mulai difokuskan pada manajemen risiko biaya bahan bakar untuk jangka panjang.