Dolar AS Menguat Saat Euro dan Poundsterling Tertekan Konflik Geopolitik

Dolar AS Menguat Saat Euro dan Poundsterling Tertekan Konflik Geopolitik
Ilustrasi USD Euro Pounds (https://media.licdn.com/dms/image/v2/D5612AQFwW4WxxvUUuw/article-cover_image-shrink_720_1280/article-cover_image-shrink_720_1280/0/1664422838761?e=1778716800&v=beta&t=UrtreNfW5t9H1kHYp4ajm2Rfn3jpyhok5nn6ysGEJlg)

JAKARTA – Mata uang Dolar AS kembali bangkit menguat sementara Euro dan Poundsterling mengalami tekanan akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Penguatan mata uang berjuluk greenback tersebut didorong oleh statusnya sebagai aset aman atau safe haven bagi para pelaku pasar global.

Analis Valas Senior, Michael Bloomberg, memberikan pemaparan mengenai posisi indeks dolar terhadap enam mata uang utama lainnya.

"Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,45 persen ke level 105,20 karena investor mencari perlindungan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah," ujar Bloomberg, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).

Kondisi sebaliknya justru dialami oleh mata uang Benua Biru yang harus rela berada di zona merah pada perdagangan pagi ini.

Data pasar menunjukkan bahwa nilai tukar Euro terhadap Dolar merosot cukup tajam dibandingkan posisi pembukaan sebelumnya.

Michael Bloomberg merinci tingkat pelemahan yang dialami oleh mata uang tunggal Eropa tersebut dalam sesi perdagangan terbaru.

"Euro melemah 0,38 persen menjadi US$1,0720 karena kekhawatiran bahwa konflik akan mengganggu pasokan energi ke wilayah Eropa," ujar Bloomberg, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).

Tidak hanya Euro, mata uang Inggris yakni Poundsterling juga tercatat mengalami koreksi yang tidak kalah dalam.

Sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko membuat permintaan akan Poundsterling menyusut di pasar valuta asing internasional.

Sentimen negatif dari perkembangan situasi di Selat Hormuz menjadi faktor eksternal yang paling dominan saat ini.

"Poundsterling turun 0,35 persen ke posisi US$1,2450 seiring dengan meningkatnya ketidakpastian mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat," ujar Bloomberg, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).

Mata uang Yen Jepang juga terpantau mengalami fluktuasi namun cenderung tertahan oleh dominasi penguatan Dolar.

Pasar terus memantau setiap pernyataan resmi dari otoritas keamanan kedua negara yang tengah bersitegang tersebut.

Michael Bloomberg berpendapat bahwa volatilitas di pasar valas akan tetap tinggi selama tidak ada tanda-tanda deeskalasi konflik dalam waktu dekat.

Intervensi pasar dari sejumlah bank sentral mungkin saja terjadi jika pelemahan mata uang lokal sudah dianggap mengganggu stabilitas ekonomi domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index