JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terpantau menguat tipis terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin pagi meskipun pasar sedang dibayangi kegagalan perundingan antara AS dan Iran.
Ketahanan mata uang Garuda di zona hijau ini menunjukkan bahwa pelaku pasar domestik cenderung lebih fokus pada indikator ekonomi internal yang stabil.
Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra, memaparkan data mengenai posisi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam pada pembukaan sesi.
"Mata uang Rupiah menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp16.185 per Dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya," ujar Ariston, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Meskipun terdapat risiko dari luar negeri, sentimen positif datang dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tetap terjaga kuat.
Arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi pemerintah turut memberikan sokongan bagi penguatan nilai tukar secara terbatas.
Ariston Tjendra memberikan analisis mengenai pengaruh faktor geopolitik internasional terhadap pergerakan aset-aset berisiko di pasar berkembang.
"Pasar tampaknya sudah mengantisipasi atau mendiskon berita kegagalan perundingan AS-Iran sehingga dampaknya terhadap Rupiah menjadi minimal," ujar Ariston, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Di sisi lain, investor global masih terus memantau rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Kekuatan indeks Dolar yang sempat melonjak kini mulai mengalami konsolidasi yang memberikan ruang napas bagi mata uang regional Asia.
Bank Indonesia dilaporkan tetap berada di pasar untuk memastikan volatilitas nilai tukar tetap berada dalam koridor yang wajar dan terkendali.
"Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat memberikan bantalan bagi Rupiah di tengah ketidakpastian yang berasal dari kawasan Timur Tengah," ujar Ariston, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Cadangan devisa yang mencukupi menjadi modal utama otoritas moneter dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dari guncangan eksternal.
Para pelaku usaha menyambut baik stabilitas nilai tukar ini guna menjaga kepastian biaya impor bahan baku manufaktur di dalam negeri.
Ariston Tjendra berpendapat bahwa pergerakan Rupiah sepanjang hari ini kemungkinan besar akan berada dalam rentang konsolidasi yang sempit.
Kewaspadaan terhadap lonjakan harga energi global tetap perlu dipertahankan karena berpotensi mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia di masa depan.