JAKARTA – Harga nikel dunia mengalami lonjakan tajam dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari Indonesia serta krisis sulfur yang menghambat proses produksi global.
Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat yang sangat bergantung pada stabilitas stok logam tersebut.
Analis Komoditas Logam, Alexander Setiaji, menjelaskan mengenai rincian kenaikan harga yang terjadi pada bursa logam internasional.
"Harga nikel di London Metal Exchange (LME) melambung 3,2 persen ke level US$19.450 per ton seiring dengan meningkatnya risiko gangguan operasional di Indonesia," ujar Alexander, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Kendala pada sisi pasokan ini diperparah oleh kesulitan yang dihadapi sejumlah fasilitas pemurnian dalam mendapatkan bahan pendukung proses ekstraksi.
Kelangkaan sulfur secara global dilaporkan mulai mengganggu jadwal produksi rutin pada pabrik pengolahan High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Alexander Setiaji memaparkan keterkaitan antara ketersediaan bahan baku kimia dengan output nikel kelas 1 di pasar dunia.
"Krisis sulfur yang terjadi saat ini menghambat efisiensi pemurnian nikel sehingga volume ekspor dari negara produsen utama diprediksi akan menyusut," ujar Alexander, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Indonesia sebagai pemegang pangsa pasar nikel terbesar dunia memegang peranan kunci dalam menentukan arah pergerakan harga komoditas ini.
Adanya isu penundaan izin pertambangan serta kendala logistik domestik turut menambah sentimen positif bagi penguatan harga di pasar spot.
Para investor kini mulai melakukan langkah antisipasi terhadap potensi defisit pasokan yang mungkin terjadi hingga akhir semester pertama tahun ini.
"Pasar sedang merespons cepat setiap informasi terkait kuota produksi tahunan karena cadangan nikel di gudang LME masih relatif terbatas," ujar Alexander, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Sejumlah perusahaan otomotif global dikabarkan mulai mencari kepastian kontrak jangka panjang guna mengamankan bahan baku baterai mereka.
Ketidakpastian ini diprediksi akan menjaga volatilitas harga nikel tetap berada pada level yang cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Alexander Setiaji berpendapat bahwa normalisasi harga hanya akan terjadi jika terdapat perbaikan signifikan pada jalur distribusi sulfur internasional.
Integrasi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan infrastruktur pendukung industri hilirisasi menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan pasokan nikel global.