JAKARTA – Harga minyak dunia melesat tajam dipicu gangguan jalur logistik di Selat Hormuz serta buntunya negosiasi diplomatik antara pihak Amerika Serikat dan Iran.
Situasi di jalur perairan paling strategis bagi distribusi energi global tersebut kini berada dalam pengawasan ketat pelaku pasar.
Analis Komoditas Global, John Richardson, memberikan pernyataan resmi terkait dampak gangguan logistik ini terhadap instrumen harga di pasar internasional.
"Harga minyak mentah Brent naik 2,5 persen menjadi US$92 per barel karena meningkatnya risiko pengiriman melalui Selat Hormuz," ujar Richardson, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Peningkatan ketegangan militer di kawasan tersebut telah memicu kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas ketersediaan stok energi bagi negara-negara industri.
Data perdagangan menunjukkan bahwa indeks minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami pergerakan naik yang cukup drastis.
John Richardson merinci kenaikan harga pada jenis minyak West Texas Intermediate sebagai respons atas kondisi geopolitik terbaru.
"Minyak mentah WTI melonjak 2,8 persen ke posisi US$88,50 per barel di tengah ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah," ujar Richardson, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Para diplomat melaporkan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran mencapai titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi ini menyulitkan tercapainya kesepakatan yang dapat meredakan tekanan ekonomi di pasar minyak global.
John Richardson menyoroti peran vital Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan minyak mentah dunia bagi para eksportir besar.
"Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya, sehingga gangguan sekecil apa pun akan berdampak masif," ujar Richardson, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Senin (27/4/2026).
Langkah-langkah pengamanan tambahan kini mulai diterapkan oleh sejumlah perusahaan pelayaran internasional yang melintasi area konflik tersebut.
Biaya premi asuransi pengiriman barang juga dikabarkan mengalami kenaikan menyusul peningkatan status risiko di kawasan Timur Tengah.
John Richardson berpendapat bahwa selama solusi diplomatik belum ditemukan maka volatilitas harga minyak akan terus menghantui pasar global hingga beberapa waktu ke depan.
Sektor industri manufaktur di berbagai belahan dunia kini mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga bahan bakar.