JAKARTA – SIG mencatatkan kenaikan penggunaan bahan bakar alternatif sebesar 24 persen sepanjang 2025 sebagai langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan batu bara.
Transformasi energi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menciptakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan efisien secara operasional.
"Sepanjang tahun 2025, SIG berhasil meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif sebesar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang sekaligus memangkas porsi penggunaan batu bara," ujar Direktur Utama SIG, Donny Arsal, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Kamis (23/4/2026).
Pemanfaatan limbah industri dan sampah perkotaan menjadi sumber energi panas utama dalam proses pembakaran di kiln semen milik perseroan.
Donny Arsal memaparkan bahwa diversifikasi sumber energi ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas margin di tengah fluktuasi harga komoditas energi global.
"Langkah ini sejalan dengan komitmen kami dalam menjalankan bisnis yang bertanggung jawab serta target dekarbonisasi yang telah ditetapkan dalam roadmap keberlanjutan perusahaan," tutur Donny Arsal, melansir dari indopremier.com, Kamis (23/4/2026).
Langkah tersebut terbukti mampu menurunkan intensitas emisi karbon secara signifikan pada setiap ton semen yang dihasilkan.
Perseroan juga terus melakukan investasi pada fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau Refuse Derived Fuel di beberapa lokasi strategis.
Sinergi dengan pemerintah daerah menjadi faktor penentu kelancaran pasokan bahan baku energi alternatif dari sampah domestik.
Saat ini penggunaan biomassa dari limbah pertanian mulai dioptimalkan untuk melengkapi bauran energi hijau di pabrik-pabrik besar.
Perubahan pola konsumsi energi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi industri manufaktur lain di Indonesia dalam melakukan transisi energi bersih.