Laba Bersih BBRI Tumbuh 13,8% Jadi Rp15,63 T di Kuartal I 2026

Kamis, 30 April 2026 | 13:51:33 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) (https://image.idntimes.com/post/20260115/upload_e57f03684fc6c0fc92195f595a5b7b5a_3c373e77-a52b-4118-8aaa-d1c1845d47b4.jpeg?tr=w-640,f-webp,q-75&width=640&format=webp&quality=75)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,63 triliun pada kuartal pertama 2026, tumbuh 13,8% secara tahunan, didukung pertumbuhan kredit yang selektif dan efisiensi pengelolaan biaya dana yang semakin tajam.

Angka tersebut naik cukup signifikan dari realisasi kuartal I 2025 yang tercatat Rp13,74 triliun. Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) menjadi motor utama pertumbuhan, mencapai Rp40,15 triliun atau naik 11,9% secara tahunan dari Rp35,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat di tengah dinamika industri, didukung oleh pertumbuhan kredit yang selektif, pengelolaan biaya dana yang semakin efisien, serta kualitas aset tetap terjaga, BRI berhasil mencatatkan laba bersih pada triwulan I 2026 sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara year-on-year," ujar Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, dalam Taklimat Media Kinerja Keuangan BRI Kuartal I 2026 yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Hery menambahkan, hasil sepanjang triwulan I 2026 terus menunjukkan hasil yang positif dan mencerminkan ketahanan bisnis perseroan di tengah tantangan industri yang masih dinamis.

Dari sisi ekspansi kredit, total portofolio Loans & Financing perseroan tumbuh 13,7% secara tahunan menjadi Rp1.562,45 triliun dari Rp1.373,66 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu instrumen yang menjadi andalan adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang disalurkan sebesar Rp47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah. Pembiayaan perumahan melalui skema FLPP juga mencapai Rp17,13 triliun untuk sekitar 125 ribu debitur.

Sisi pendanaan turut mencatatkan penguatan yang konsisten. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp1.555,12 triliun, dengan komposisi dana murah atau CASA mencapai 68,1%, mencerminkan dominasi dana berbasis tabungan dan giro yang lebih efisien dan berbiaya rendah. Beban bunga sendiri berhasil ditekan turun 9,3% secara tahunan menjadi Rp12,68 triliun, sehingga memperlebar spread pendapatan bunga bersih perseroan.

Total aset konsolidasian BRI per 31 Maret 2026 tercatat mencapai Rp2.249,83 triliun, naik 7,2% secara tahunan. Posisi permodalan juga semakin kokoh, dengan total ekuitas melonjak 12,8% secara tahunan menjadi Rp345,06 triliun. Tier 1 Capital melesat 15,2% secara tahunan menjadi Rp315,75 triliun, mencerminkan fondasi permodalan yang kian kuat dalam menghadapi risiko.

Di balik capaian tersebut, terdapat 1 catatan yang perlu dicermati. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto naik menjadi 3,31% dari sebelumnya sekitar 3%, sementara NPL net meningkat menjadi 1,01%. Kenaikan ini menandakan risiko kredit yang ikut membesar seiring agresivitas penyaluran. Namun beban provisi secara keseluruhan masih terkendali di angka Rp12,12 triliun, turun 1,2% secara tahunan.

Laba per saham BRI juga tercatat naik menjadi Rp103 per saham pada kuartal I 2026, tumbuh 14,44% dibandingkan Rp90 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan nilai tambah yang semakin terasa bagi pemegang saham perseroan.

Terkini