JAKARTA – BEI resmi menyuspensi saham BOBA pada 29 April 2026 setelah harga melonjak 97,55% dalam sebulan. Langkah ini diambil sebagai cooling down perlindungan investor.
Giliran saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) yang masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI). Lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat memaksa otoritas bursa mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara perdagangan saham emiten produsen bahan baku minuman tersebut.
"Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA), dalam rangka cooling down sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) pada tanggal 29 April 2026," kata P.H. Kepala Divisi Pengawasan Transaksi, Donni Kusuma Permana, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Donni menegaskan, penghentian sementara perdagangan saham BOBA diberlakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Kebijakan ini bertujuan memberi ruang bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara lebih cermat berdasarkan informasi yang tersedia.
Sebelum suspensi dijatuhkan, saham BOBA mencatat kinerja yang cukup mencolok. Pada perdagangan Selasa (28/4/2026), saham ini ditutup melonjak 22,90% ke level Rp 322 per saham. Angka itu melanjutkan tren positif yang sudah berlangsung selama beberapa pekan, di mana dalam sebulan terakhir saham BOBA telah melesat hingga 97,55%.
Kenaikan harga yang nyaris menyentuh 2 kali lipat dalam tempo sebulan itulah yang akhirnya memicu BEI bertindak. Pola pergerakan semacam ini kerap menjadi sinyal bagi otoritas bursa untuk melakukan cooling down, demi mencegah terjadinya gelembung harga yang berpotensi merugikan investor ritel.
Dari sisi fundamental, PT Formosa Ingredient Factory Tbk sebenarnya mencatatkan kinerja keuangan yang cukup positif. Laba bersih perusahaan pada kuartal I 2026 melonjak 96,83% secara tahunan menjadi Rp 6,65 miliar, dibandingkan Rp 3,38 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 27,70% secara tahunan, ditopang penjualan segmen makanan dan minuman di pasar domestik.
Kinerja yang solid itu turut tercermin pada struktur permodalan perseroan. Debt to Equity Ratio (DER) BOBA hanya sebesar 0,15 kali, menandakan beban utang yang sangat konservatif. Current ratio perusahaan juga terjaga di atas 2,6 kali, mencerminkan likuiditas yang memadai untuk mendukung operasional maupun rencana ekspansi ke depan.
Meski demikian, lonjakan harga saham yang jauh melampaui pertumbuhan fundamental tetap menjadi perhatian serius bagi regulator. BEI selama ini konsisten menerapkan mekanisme suspensi sebagai instrumen pengawasan terhadap saham-saham yang mengalami kenaikan kumulatif tidak wajar dalam waktu singkat. Langkah serupa sebelumnya juga pernah dijatuhkan kepada beberapa emiten lain seperti WBSA, CTTH, dan MDIA yang sama-sama mencatat lonjakan harga ekstrem dalam sebulan terakhir. Pelaku pasar diimbau untuk senantiasa mencermati informasi keterbukaan emiten sebelum mengambil keputusan transaksi setelah suspensi dicabut.