Sentimen OpenAI Hantam Wall Street, Nasdaq Turun 0,9%

Rabu, 29 April 2026 | 21:24:19 WIB
Ilustrasi OpenAI (https://i.pcmag.com/imagery/articles/034h1Q2VOswgL8BpsyAvp8P-1.fit_lim.size_850x490.v1759787630.jpg)

NEW YORK – Saham chip berguguran di Wall Street setelah laporan perlambatan OpenAI mengguncang sentimen pasar teknologi pada Selasa, 28 April 2026.

Ketiga indeks utama bursa Amerika Serikat kompak menutup sesi perdagangan Selasa (28/4/2026) di zona merah. Dow Jones Industrial Average tergerus 25,86 poin atau 0,05% ke posisi 49.141,93, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,49% ke level 7.138,80. Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 0,9% ke angka 24.663,80.

Oliver Pursche, Vice President Wealthspire Advisors, menyoroti betapa saat ini sikap the Fed menjadi perhatian utama pelaku pasar. "Kita tahu bahwa the Fed pada dasarnya sedang menahan diri," kata Oliver Pursche, Vice President Wealthspire Advisors, di New York, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Selasa (28/4/2026).

Pursche menambahkan, pasar saat ini berada dalam fase penantian ganda — menunggu arah kebijakan suku bunga sekaligus mencermati laporan keuangan emiten-emiten besar yang akan segera dirilis.

Pemicu utama pelemahan berasal dari laporan Wall Street Journal yang mengungkap pertumbuhan pengguna baru dan pendapatan OpenAI berada di bawah target internal perusahaan. CFO OpenAI, Sarah Friar, disebut telah menyampaikan kekhawatiran ini langsung ke jajaran manajemen. Kondisi ini memunculkan keraguan atas kemampuan OpenAI memenuhi kontrak komputasi dalam jangka panjang jika tren tersebut tidak berbalik.

Dampaknya langsung terasa di sektor semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) tergerus sekitar 3% dalam sehari. Saham Nvidia melemah lebih dari 1%, Broadcom ambles lebih dari 4%, Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi lebih dari 3%, sementara Oracle juga ikut turun sekitar 4%.

Di sisi lain, saham Coca-Cola memberikan angin segar bagi Dow Jones setelah melonjak hampir 4% berkat laporan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi. Namun penguatan tunggal tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tekanan besar dari sektor teknologi.

Faktor geopolitik turut memperkeruh suasana. Pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali buntu setelah Presiden Donald Trump membatalkan pengiriman utusan khusus. Iran pun menyatakan belum ada jadwal pertemuan dengan AS, kondisi yang langsung mendorong harga energi melonjak tajam.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melejit lebih dari 3% ke level USD 99,93 per barel, sementara minyak Brent menguat 2,8% ke USD 111,26 per barel. Kenaikan harga energi ini semakin menambah beban bagi pelaku pasar yang sudah lebih dahulu digelisahkan isu OpenAI.

Pekan ini pasar juga menantikan rilis laporan keuangan dari kelompok "Magnificent Seven". Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft dijadwalkan merilis kinerjanya pada Rabu, sedangkan Apple menyusul pada Kamis. Hasil laporan keuangan emiten-emiten tersebut berpotensi menentukan arah pergerakan pasar setidaknya dalam jangka pendek.

Perlu dicatat, pelemahan ini terjadi sehari setelah S&P 500 dan Nasdaq justru mencetak rekor penutupan tertinggi pada Senin. Koreksi yang terjadi mencerminkan betapa rapuhnya sentimen pasar terhadap berita negatif, terutama yang datang dari sektor kecerdasan buatan yang selama ini menjadi tulang punggung reli bursa.

Terkini