JAKARTA – Saham BBNI terus diserok asing meski harga melemah. PBV hanya 0,81, laba Rp 20,11 T, dan dividend yield 9,6% jadi daya tarik utama investor global.
Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat anomali menarik di tengah pelemahan harga. Pada perdagangan Senin (27/4/2026), saham BBNI ditutup minus 1,33% ke level Rp 3.720, namun investor asing justru membukukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 17,99 miliar pada hari yang sama.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memberikan penilaian tegas atas kondisi saham BBNI saat ini. "PER 6x dan dividend yield 9,6%, valuasi sangat menarik di level harga saat ini. Laba bersih FY26F diproyeksikan pulih ke Rp 21,99 triliun (+9% yoy)," sebut BRIDS sambil merekomendasikan buy saham BNI dengan target harga Rp 4.700, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
BRIDS berpendapat bahwa risiko utama saham BBNI berada pada tekanan Net Interest Margin (NIM) yang berpotensi berlanjut jika persaingan perebutan dana semakin ketat dan suku bunga Bank Indonesia lambat turun. Sentimen negatif dari arus jual asing juga dinilai dapat menahan potensi rerating valuasi.
Pola aksi beli asing terhadap BBNI ini bukan hanya terjadi pada 1 hari. Pada Jumat (24/4/2026), saat harga saham BBNI memerah 2,58%, asing justru membukukan net buy Rp 48,37 miliar. Dalam sebulan terakhir, saham BBNI memang melemah 4,62%, namun investor asing justru tercatat mengakumulasi dengan total net buy mencapai Rp 433,72 miliar.
Dari sisi valuasi, BBNI terbilang murah dibanding nilai bukunya. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, rasio Price to Book Value (PBV) BBNI hanya 0,81 kali dengan Price Earning Ratio (PER) 6,92 kali. Angka PBV di bawah 1 menandakan saham diperdagangkan di bawah nilai buku perusahaan, yang kerap menjadi sinyal menarik bagi investor berorientasi nilai.
Dari sisi kinerja, BBNI sepanjang tahun buku 2025 mencatatkan laba bersih Rp 20,11 triliun, meskipun turun 7% secara tahunan akibat tekanan NIM yang melemah dari 4,24% di FY24 menjadi 3,80%. Kredit BBNI sendiri tumbuh kuat 15,94% secara tahunan mencapai Rp 899,53 triliun, namun ekspansi tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan margin bunga.
BRIDS merinci bahwa Loan at Risk (LAR) BBNI turun signifikan ke level 8,5% pada akhir 2025, mencerminkan perbaikan kualitas aset yang berjalan konsisten. Manajemen BBNI menargetkan kredit tumbuh 8-10% dan NIM dijaga di kisaran 3,5-3,8% sepanjang FY26, dengan dukungan efisiensi berbasis digital.
Yang memperkuat kepercayaan pasar adalah aksi institusi global. BlackRock dan Vanguard tercatat aktif mengakumulasi saham BBNI pada awal 2026, yang mencerminkan keyakinan investor institusional berskala global terhadap prospek fundamental jangka panjang bank pelat merah tersebut.
Pada perdagangan Selasa (28/4/2026), saham BBNI membalikkan tekanan dan ditutup menguat 1,88% ke level Rp 3.790, disertai net buy asing sebesar Rp 33,96 miliar. Penguatan ini menjadi sinyal awal bahwa aksi akumulasi bertahap oleh investor institusional mulai memberikan bantalan bagi pergerakan harga saham BBNI.