JAKARTA – Perubahan berarti saham BBCA terlihat setelah koreksi dalam. Herditya MNC Sekuritas nilai BBCA berpeluang menguat ke 6.575–7.025 jika tahan di 5.900.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menutup perdagangan Selasa (28/4/2026) dengan penguatan tipis 0,42% ke level Rp 6.000. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan global yang masih menyelimuti, setelah sebelumnya saham bank swasta terbesar Indonesia itu sempat terpuruk ke level terendah dalam 3 tahun terakhir pada perdagangan Jumat (24/4/2026).
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memetakan gambaran teknikal saham BBCA secara gamblang. "Kami memperkirakan koreksi akan cenderung terbatas untuk menguji area support terdekat di 5.900. Apabila mampu bertahan di atas area tersebut, BBCA berpeluang menguat menuju 6.575–7.025," kata dia kepada media di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Herditya menilai, secara teknikal pergerakan BBCA dalam timeframe bulanan masih berada dalam fase downtrend, namun ruang koreksi jangka pendek kian menyempit. Momentum ini dianggap membuka celah bagi pelaku pasar untuk mulai melakukan akumulasi bertahap.
Pada Jumat (24/4/2026), tekanan jual terhadap BBCA mencapai titik ekstrem. Net foreign sell (NFS) mencapai sekitar Rp 2,1 triliun, menjadikannya salah satu aksi jual asing terbesar yang dialami saham ini. Meski demikian, analis menilai pelemahan tersebut lebih mencerminkan sentimen pasar global ketimbang perubahan kualitas fundamental perusahaan.
Sinyal pemulihan juga datang dari internal perusahaan. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengungkapkan bahwa perseroan memiliki rencana buyback saham senilai maksimal Rp 5 triliun yang telah mendapat persetujuan dalam RUPST pada 12 Maret lalu. Program buyback tersebut akan berlangsung selama 12 bulan sejak disetujui.
Dari sisi kinerja, BBCA mencatatkan laba bersih Rp 14,7 triliun pada Kuartal I-2026 (1Q26), tumbuh 4% secara kuartalan maupun tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan berbasis biaya atau fee income yang solid serta efisiensi biaya operasional.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, turut memberikan catatan atas kinerja 1Q26 tersebut. Keduanya berpendapat bahwa perolehan laba bersih BBCA telah mencapai 24% dari estimasi untuk tahun ini, sehingga kinerjanya dinilai sesuai ekspektasi konsensus pasar.
Rasio CASA BBCA tercatat sebesar 84,7%, ditopang pertumbuhan dana murah sebesar 4% secara kuartalan. Kredit tumbuh 6% secara tahunan, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) dan loan at risk (LaR) masing-masing turun 5% dan 11% year-on-year, didorong perbaikan di segmen korporasi dan komersial.
Di sisi lain, saham BBCA secara year to date masih mencatat pelemahan lebih dari 30%, seiring tekanan arus modal asing yang keluar dari pasar domestik. Sepanjang tahun 2026, investor asing tercatat mencetak net sell dalam jumlah signifikan terhadap saham ini. Namun Head Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menegaskan bahwa peluang rebound teknikal tetap terbuka, dengan laporan kinerja keuangan berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham BBCA ke depan.