Dolar AS Kehilangan Tenaga Akibat Sinyal Dovish dari Pejabat The Fed

Minggu, 26 April 2026 | 17:04:57 WIB
Ilustrasi Dollar AS (https://www.investopedia.com/thmb/jJRcwGU2eSUZYtdjI_gCnkdc_w4=/750x0/filters:no_upscale():max_bytes(150000):strip_icc():format(webp)/GettyImages-919003034-3044410508e842f499b39cf247863bc7.jpg)

JAKARTA - Pantau kondisi Dolar AS kehilangan tenaga setelah munculnya sinyal dovish dari internal The Fed yang memicu spekulasi penghentian kenaikan suku bunga acuan.

Mata uang Amerika Serikat terpantau mengalami koreksi cukup dalam setelah serangkaian pernyataan dari otoritas moneter mengisyaratkan pendekatan yang lebih berhati-hati.

Pelaku pasar bereaksi cepat dengan menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap arah kebijakan moneter hingga akhir semester pertama tahun ini.

"Dolar AS sedang dalam tekanan jual karena pasar mulai mencerna kemungkinan bahwa suku bunga sudah mencapai puncaknya," kata Christopher Wong, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Sabtu (25/4/2026).

Indeks yang mengukur kekuatan mata uang tersebut merosot hingga menyentuh level 102,45 terhadap keranjang mata uang utama lainnya di perdagangan global.

Penurunan ini disambut positif oleh bursa saham Asia yang melihat adanya peluang penguatan bagi nilai tukar domestik masing-masing negara.

Mary Daly berpendapat bahwa kebijakan moneter saat ini sudah berada di wilayah yang cukup ketat sehingga risiko melakukan tindakan berlebihan perlu dipertimbangkan secara matang.

Kekhawatiran akan terjadinya resesi teknis mulai membayangi para pengambil kebijakan di tengah data sektor manufaktur yang terus menunjukkan perlambatan signifikan.

Meskipun inflasi masih berada di atas target 2 persen, laju pertumbuhannya menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam 3 bulan terakhir.

"Ada pergeseran nyata dalam retorika para pejabat bank sentral yang kini lebih fokus pada risiko penurunan ekonomi dibandingkan hanya pada inflasi," ujar Rodrigo Catril, dikutip dari indopremier.com, Sabtu (25/4/2026).

Nilai tukar rupiah terpantau bergerak menguat ke level 15.650 per dolar seiring meredanya tekanan dari pasar obligasi global yang sempat memanas.

Sentimen ini diperkirakan akan tetap mendominasi pasar keuangan selama tidak ada kejutan dari data ketenagakerjaan yang dirilis pekan depan.

Pejabat Bank Sentral menegaskan bahwa fleksibilitas dalam mengambil keputusan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung, melansir indopremier.com, Minggu (26/4/2026).

Aliran modal asing tercatat mulai masuk kembali ke pasar negara berkembang sebagai bentuk diversifikasi aset dari investor institusi besar.

Stabilitas moneter global kini sangat bergantung pada bagaimana otoritas tertinggi tersebut mengelola transisi kebijakan tanpa memicu guncangan pasar yang ekstrem.

Terkini