JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan AS yang meredam harapan gencatan senjata telah mendorong penguatan greenback menuju penutupan pekan yang positif di pasar global.
Kondisi geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah ini kembali memicu penghindaran risiko oleh para pelaku pasar di seluruh dunia.
"Ketegangan yang meningkat antara Iran dan AS telah memupus harapan pasar akan adanya gencatan senjata dalam waktu dekat, sehingga dolar AS kembali diburu," tulis Analis Pasar Uang, sebagaimana dilansir dari indopremier.com, Jumat (24/4/2026).
Indeks dolar AS atau DXY terpantau bergerak naik mendekati level tertingginya dalam beberapa bulan terakhir terhadap sejumlah mata uang utama lainnya.
Tim Riset menjelaskan bahwa status dolar AS sebagai aset aman menjadi faktor penentu di saat ketidakpastian keamanan internasional sedang melanda.
"Sentimen safe haven ini diperkirakan akan terus mendukung posisi greenback untuk tetap berada di jalur positif hingga penutupan perdagangan pekan ini," papar Analis Pasar Uang, melansir dari indopremier.com, Jumat (24/4/2026).
Mata uang Euro dan Poundsterling justru mengalami tekanan yang cukup berat akibat bayang-bayang dampak ekonomi dari konflik tersebut terhadap daratan Eropa.
Yen Jepang yang biasanya menjadi pilihan saat krisis juga terlihat masih berjuang menghadapi dominasi penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Pasar saat ini tidak hanya memperhatikan rilis data ekonomi makro, namun juga sangat sensitif terhadap pernyataan diplomatik dari kedua belah pihak yang bertikai.
Volume permintaan terhadap aset likuid dalam denominasi dolar meningkat signifikan seiring dengan aksi lindung nilai yang dilakukan institusi keuangan global.
Pergerakan nilai tukar di akhir pekan ini diproyeksikan akan tetap berada dalam volatilitas tinggi mengikuti dinamika berita utama dari medan konflik.