Harga Emas Dunia Menguat 2,1 Persen Sepekan Dipicu Sentimen Global

Harga Emas Dunia Menguat 2,1 Persen Sepekan Dipicu Sentimen Global
Ilustrasi Harga Emas Dunia Menguat (GAMBAR: discoveryalert.com.au)

NEW YORK – Harga emas di pasar global menunjukkan kenaikan pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026) sekaligus mencatatkan penguatan sepanjang pekan ini.

Tren positif ini terjadi seiring dengan tumbuhnya optimisme pasar mengenai kemungkinan deeskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan laporan dari Reuters, kondisi tersebut turut meredakan kekhawatiran atas inflasi dan membuka peluang bagi The Fed untuk melakukan pemangkasan suku bunga di masa mendatang.

Harga emas ditutup menguat 0,61 persen pada level US$ 4.716,01 per ons troi. Dalam sepekan, logam mulia ini telah menguat sebesar 2,1 persen. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS berakhir naik 0,27 persen di posisi US$ 4.723,7 per ons troi.

Para pelaku pasar menilai bahwa dinamika negosiasi antara AS dan Iran merupakan faktor fundamental yang memengaruhi pasar global, termasuk komoditas emas. Harapan akan tercapainya kesepakatan damai memicu koreksi harga energi serta meredanya tekanan inflasi.

David Meger, yang menjabat sebagai Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, menjelaskan bahwa fluktuasi harga emas saat ini lebih mencerminkan karakteristik aset berisiko ketimbang statusnya sebagai aset aman (safe haven).

“Rebound emas berkaitan dengan prospek meredanya konflik Iran. Ketika harga energi turun, peluang pemangkasan suku bunga The Fed di masa depan menjadi semakin besar,” ujar Meger, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Otoritas Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka masih menunggu respons terbaru dari pihak Iran terkait draf penghentian konflik di kawasan Teluk.

Meski upaya diplomasi sedang berlangsung, ketegangan militer di wilayah tersebut dilaporkan masih belum sepenuhnya hilang.

Di sisi lain, indeks dolar AS dan harga minyak mentah diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan.

Pelemahan dolar menyebabkan emas, yang dihargai dalam mata uang AS, menjadi lebih murah bagi para investor yang menggunakan mata uang asing lainnya, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut.

Terkait sentimen The Fed, merujuk pada CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS tahun ini merosot menjadi 14 persen dari sebelumnya yang berada di angka 22 persen. Pasar juga sedang mencermati perkembangan struktur kepemimpinan di The Fed.

Gubernur The Fed Stephen Miran berharap agar masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell hanya berlangsung singkat. Nama Kevin Warsh kini muncul sebagai kandidat kuat pengganti Powell, sambil menunggu proses konfirmasi dari Senat AS.

Melihat data ekonomi terbaru, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan April yang melampaui estimasi pasar. Data tersebut sempat memberikan dorongan bagi harga emas untuk merangkak naik.

Sementara itu, konsumsi emas fisik di India terpantau menurun pada pekan ini karena pembeli memilih menunda transaksi akibat kenaikan harga. Di sisi lain, premi emas di China tetap stabil yang didorong oleh tingginya minat terhadap aset aman.

Pada kategori logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 2,45 persen ke level US$ 80,35 per ons dan platinum naik 1,66 persen menjadi US$ 2.059,02 per ons. Kedua logam ini juga mencatatkan penguatan mingguan.

Sedangkan palladium naik tipis 0,17 persen ke posisi US$ 1.487,81 per ons.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index