Bitcoin Turun 2,28 Persen Akibat Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah

Bitcoin Turun 2,28 Persen Akibat Eskalasi Geopolitik di Timur Tengah
Ilustrasi Bitcoin dan Geopolitik (GAMBAR: AI)

JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin kembali menunjukkan tren koreksi seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang kian memanas.

Kondisi pasar kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh sikap para pemodal yang cenderung menghindari aset berisiko setelah Iran menolak tawaran damai yang diajukan Amerika Serikat terkait konflik di kawasan Teluk.

Mengacu pada data CoinMarketCap, harga Bitcoin sempat merosot 2,28% dalam 24 jam terakhir menuju level US$ 79.637,54. Sementara itu, hingga pukul 18.00 WIB pada Jumat (8/5/2026), Bitcoin terpantau berada di posisi US$ 80.201 atau mengalami penurunan sebesar 0,75%.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, berpendapat bahwa tekanan pada Bitcoin saat ini lebih dipicu oleh faktor makroekonomi dan situasi geopolitik dibandingkan fundamental internal industri kripto itu sendiri.

Menurutnya, kenaikan risiko geopolitik global mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan, sehingga investor memilih membatasi kepemilikan pada aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

“Penurunan Bitcoin ke area US$ 79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto,” ungkap Fyqieh dalam keterangan resminya pada Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam rentang 24 jam terakhir, Bitcoin menunjukkan korelasi kuat dengan indeks S&P 500 sebesar 76% dan dengan emas sebesar 59%. Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan pasar kripto semakin terhubung erat dengan sentimen global serta dinamika pasar keuangan konvensional.

“Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual,” jelas Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat juga mencatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar US$ 268,5 juta pada 8 Mei 2026. Penarikan dana ini mencerminkan sikap hati-hati investor institusi terhadap aset digital di tengah ketidakpastian global.

Secara teknikal, Bitcoin sebelumnya gagal menembus zona resistance di level US$ 82.800. Saat ini, zona support penting berada di kisaran US$ 78.500 hingga US$ 78.000. Jika level ini mampu dijaga, peluang untuk rebound menuju US$ 82.800 masih terbuka.

Namun, jika harga ditutup di bawah US$ 78.000, ancaman koreksi lebih dalam ke arah US$ 76.300 akan menguat.

“Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300,” tutur Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski tertekan dalam jangka pendek, Tokocrypto menilai struktur pasar Bitcoin belum sepenuhnya beralih ke arah bearish. Dalam beberapa bulan terakhir, minat institusi terhadap Bitcoin tetap tinggi. Pada April 2026, net inflow ETF Bitcoin spot di AS mencapai US$ 2,44 miliar, rekor tertinggi tahun ini.

Sejak awal 2024, total dana masuk ke ETF Bitcoin spot telah melewati US$ 58,5 miliar dengan total dana kelolaan sekitar US$ 102 miliar. Kedepannya, pelaku pasar memantau sentimen utama seperti diplomasi AS-Iran, aliran dana mingguan ETF, hingga kebijakan suku bunga The Fed.

Selain itu, diskusi regulasi aset digital di AS juga menjadi perhatian, termasuk Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang dijadwalkan masuk agenda pemungutan suara Senat AS pada Juni 2026. Fyqieh menilai regulasi yang jelas dapat meningkatkan kepercayaan institusi.

“Kejelasan regulasi akan menjadi salah satu katalis penting untuk pasar kripto. Jika aturan semakin jelas, investor institusi akan lebih percaya diri masuk ke aset digital karena risiko regulasi menjadi lebih terukur,” tambah Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk pergerakan pendek, Bitcoin perlu kembali menembus dan bertahan di atas level US$ 82.000 untuk menguat kembali. Jika tren positif berlanjut, target teknikal berikutnya diproyeksikan pada kisaran US$ 90.000 hingga US$ 98.000.

“Bitcoin mulai menunjukkan struktur pasar yang lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu, tetapi belum masuk fase aman sepenuhnya. Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global,” tutup Fyqieh, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index