JAKARTA – IHSG kembali tertekan ke 7.032 pada Kamis pagi usai jeda rebound sehari. Tekanan berasal dari sikap hawkish Fed dan eskalasi blokade AS terhadap Iran di Hormuz.
Setelah berhasil menjeda pelemahan 7 hari beruntun dengan ditutup menguat 0,41% ke level 7.101 pada Rabu (29/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung berbalik arah pada pagi hari ini, Kamis (30/4/2026). Indeks sempat naik tipis ke level 7.103 di sesi pembukaan sebelum tekanan jual menekan indeks ke zona merah.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menyatakan bahwa secara teknikal indeks masih dibayangi tekanan jual yang cukup berat menjelang akhir pekan panjang, karena hari ini menjadi sesi perdagangan terakhir sebelum libur nasional Hari Buruh pada Jumat (1/5/2026).
CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa pergerakan IHSG akan bervariasi dengan kecenderungan melemah akibat sentimen negatif dari Wall Street dan pelemahan nilai tukar rupiah, meski kenaikan harga komoditas energi serta rilis laporan keuangan kuartal I-2026 masih berpotensi menjadi katalis penyeimbang bagi pasar.
Pada pukul 09.16 WIB, IHSG tercatat terpangkas 0,97% atau 68 poin ke level 7.032. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.109 di zona hijau dan terendah di level 7.022 di zona merah. Sebanyak 190 emiten bergerak menguat, 401 emiten melemah, dan 368 emiten stabil.
Frekuensi transaksi mencapai 363,6 ribu kali dengan nilai Rp2,69 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat di Rp12,53 triliun. BRI Danareksa Sekuritas menyoroti berlanjutnya tekanan jual dari investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp986 miliar di pasar reguler.
Seluruh sektor kompak melemah pada sesi pagi ini. Sektor bahan baku turun 1,06% ke level 2.182, sektor konsumer primer terkoreksi 0,78% ke 1.073, sementara sektor infrastruktur merosot ke 2.064 dan sektor kesehatan tergerus tipis 0,05% ke level 1.738. Tekanan merata di semua lini mengindikasikan sentimen pasar yang masih sangat waspada terhadap risiko global.
Pemicu utama pelemahan pagi ini datang dari 2 sumber sekaligus. Pertama, hasil rapat FOMC Federal Reserve semalam yang bersikap hawkish dengan voting 8 berbanding 4 mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%—perpecahan terbesar sejak Oktober 1992. Kedua, Presiden Donald Trump menegaskan blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, mendorong minyak WTI melonjak 7,17% ke USD107,16 per barel dan Brent melejit 6,78% ke USD118,80 per barel.
CGS International menetapkan kisaran support IHSG hari ini di 7.025–6.950 dan resistance di 7.180–7.255. Dari sisi teknikal, Panin Sekuritas memproyeksikan pelemahan IHSG juga dipicu oleh kenaikan yield obligasi baik di Amerika Serikat maupun domestik yang menambah tekanan terhadap aset berisiko. Pasar kini bersiap memasuki libur panjang dengan posisi yang penuh kehati-hatian, menantikan perkembangan negosiasi AS-Iran dan dampak lanjutan dari nada hawkish The Fed terhadap aliran modal global ke pasar negara berkembang.