Berkat Divestasi, APLN Berbalik Untung Rp513,8 M di Q1 2026

Berkat Divestasi, APLN Berbalik Untung Rp513,8 M di Q1 2026
Ilustrasi PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) (https://infobanknews.com/wp-content/uploads/2026/03/Agung-Podomoro-Land-logo.webp)

JAKARTA – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berhasil berbalik dari posisi merugi menjadi membukukan laba sebesar Rp513,8 miliar pada kuartal pertama 2026, ditopang oleh aksi divestasi aset strategis yang kembali menjadi andalan perseroan dalam memperbaiki struktur keuangannya.

Pembalikan ini mengakhiri tren rugi yang menghantui APLN beberapa periode sebelumnya. Sepanjang kuartal III 2025, perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp57,95 miliar, sementara laba bersih penuh tahun 2025 anjlok 82,19% menjadi hanya Rp112,84 miliar akibat tidak adanya kontribusi penjualan aset besar seperti Hotel Pullman Ciawi Vimala Hills yang terjadi pada 2024.

"Aset yang kami divestasi berhasil meningkatkan nilai perusahaan, mendorong percepatan proyek properti baru dan berhasil memangkas utang perusahaan. Kami bersyukur strategi ini dapat dijalankan dengan sangat baik oleh manajemen APLN," ujar Justini Omas, Corporate Secretary Agung Podomoro Land, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Rabu (30/4/2026).

Justini menambahkan, divestasi aset merupakan strategi konsisten yang dijalankan perseroan sejak 2017 untuk memperkuat fundamental dan mendukung ekspansi pada proyek-proyek bernilai tinggi. Setiap pelepasan aset yang dilakukan perseroan memang selalu diarahkan untuk mempercepat pelunasan kewajiban finansial sekaligus menyuntikkan likuiditas bagi pertumbuhan.

Rekam jejak strategi ini terbukti cukup efektif. Sejak 2021, total pinjaman berbunga APLN terus menurun dari Rp10 triliun menjadi Rp5,5 triliun per September 2025, atau berkurang hingga sekitar Rp4,5 triliun dalam 4 tahun. Salah satu sumber utama pelunasan tersebut berasal dari divestasi aset strategis yang nilainya tinggi, termasuk penjualan lahan sekitar 8 hektar di Bali pada Desember 2025 kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.

Meski kinerja membaik, catatan para analis menunjukkan bahwa perbaikan laba APLN masih sangat bergantung pada monetisasi aset, bukan sepenuhnya dari penguatan bisnis inti seperti penjualan properti atau pendapatan berulang. Setiap aset yang dilepas, mulai dari Central Park Mall, Sofitel Bali Ubud, Pullman Ciawi, hingga DeliPark Mall Medan, sejatinya merupakan sumber recurring income yang berpotensi mengikis kapasitas pendapatan jangka panjang perseroan.

Di sisi proyek aktif, APLN terus mengembangkan sejumlah properti unggulan di berbagai kota seperti Podomoro Park Bandung, Bukit Podomoro Jakarta, dan Podomoro Golf View. Pendapatan berulang dari portofolio yang masih dipegang, termasuk Senayan City, Central Park Mall, Pullman Grand Central Bandung, dan Hotel Indigo Bali Seminyak Beach, tetap menjadi tulang punggung stabilitas pendapatan operasional perseroan.

Ke depan, analis menilai prospek APLN 2026 masih bergantung pada 2 faktor kunci: pemulihan penjualan proyek eksisting dan tren penurunan BI rate yang diharapkan dapat menekan biaya pendanaan. Jika kedua katalis tersebut bergerak positif, margin APLN berpotensi membaik secara lebih organik tanpa harus sepenuhnya mengandalkan pelepasan aset.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index