JAKARTA – CDIA catat pendapatan USD41,2 juta di Q1 2026, tumbuh 19% secara tahunan, ditopang lonjakan segmen logistik 49% dan adjusted EBITDA yang melonjak 125%, meski laba bersih tertekan signifikan akibat melesatnya beban pokok pendapatan.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) atau CDI Group, anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang bergerak di sektor infrastruktur terintegrasi, merilis laporan keuangan kuartal I-2026 dengan gambaran pertumbuhan top line yang kuat namun diiringi tekanan profitabilitas di lini bawah. Perseroan berhasil meraup pendapatan bersih USD41,2 juta sepanjang Januari–Maret 2026, meningkat 19 persen dibandingkan USD34,6 juta pada periode yang sama tahun 2025.
"CDI Group terus menunjukkan kinerja yang resilien dan eksekusi yang konsisten di berbagai siklus, didukung oleh platform infrastruktur terintegrasi serta disiplin dalam alokasi modal," kata Jonathan Kandinata, Direktur CDI Group, dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Jonathan menambahkan, pertumbuhan kinerja topline CDI Group didorong oleh kontribusi inisiatif strategis dan ekspansi aset yang dijalankan sepanjang 2025. Menurutnya, utilisasi aset yang tinggi, basis pendapatan berulang yang stabil, serta peningkatan kontribusi pelanggan pihak ketiga menjadi fondasi pertumbuhan, ditambah upside dari kenaikan tarif spot kapal di tengah kondisi pasar logistik yang menguntungkan.
Segmen logistik menjadi motor pertumbuhan tercepat pada kuartal ini, dengan kenaikan 49 persen dari USD9,5 juta menjadi USD14,3 juta. Segmen energi yang menjadi penopang utama pendapatan juga tumbuh 6,8 persen menjadi USD25,3 juta, didukung utilisasi aset yang tinggi dan kontrak jangka panjang yang stabil.
Meski pendapatan naik dua digit, beban pokok pendapatan melesat 22 persen menjadi USD31,2 juta seiring ekspansi operasional yang intensif. Laba kotor masih tumbuh positif 9,4 persen menjadi USD10 juta dengan margin 24,4 persen. Sementara itu, adjusted EBITDA melonjak drastis 125 persen menjadi USD14,1 juta dengan margin mencapai 34,2 persen, mencerminkan peningkatan kapasitas produktif yang signifikan.
Namun, laba bersih setelah pajak yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat anjlok 69 persen dari USD30,2 juta menjadi USD9,5 juta atau sekitar Rp142,8 miliar. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh tidak berulangnya keuntungan non-operasional besar dari periode sebelumnya, bukan dari penurunan kualitas operasional inti perseroan.
CDI Group juga mempertahankan posisi keuangan yang solid dengan likuiditas sebesar USD954,2 juta dan rasio utang terhadap kapitalisasi di level 39 persen. Posisi tersebut memberikan fleksibilitas yang memadai untuk menangkap peluang pertumbuhan sekaligus menjaga ketahanan keuangan jangka panjang.
Pada sisi ekspansi, perseroan terus mengeksekusi pipeline proyek di 4 pilar bisnis utamanya. Di segmen energi, kapasitas tenaga surya telah mencapai 11 MWp dengan tambahan 5 MWp yang sedang dikembangkan dan ditargetkan beroperasi tahun ini. Di segmen air, pengembangan tambahan kapasitas 600 liter per detik di WTP Krenceng serta fasilitas pengolahan air limbah 1.200 meter kubik per hari di Cilegon sedang berjalan. Untuk segmen pelabuhan dan penyimpanan, pembangunan infrastruktur dari dana IPO telah mencapai progres 60 persen. Sementara di segmen logistik, armada kapal ditargetkan berkembang menjadi 20 unit hingga akhir 2026, mencakup kapal gas, kimia, dan dry bulk, termasuk kapal tanker kimia Boreas berkapasitas 9.000 DWT yang dijadwalkan beroperasi tahun ini.