PGEO Cetak Laba USD43,9 Juta, Naik 40% di Kuartal Pertama 2026

PGEO Cetak Laba USD43,9 Juta, Naik 40% di Kuartal Pertama 2026
Ilustrasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) (https://asset.kompas.com/crops/poJVs8Wu6z-ifcz1IPgr6XSsGe8=/0x0:6000x4000/1200x800/data/photo/2025/09/30/68dbae514fd64.jpg)

JAKARTA – Laba bersih PGEO melejit 40% menjadi USD43,9 juta pada kuartal I 2026, jauh melampaui perolehan periode yang sama tahun sebelumnya senilai USD31,3 juta, ditopang strategi bisnis berkelanjutan yang berjalan efektif dan pendapatan yang terus tumbuh double digit.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE membukukan pendapatan sebesar USD116,555 juta pada kuartal pertama 2026, naik 14,8 persen secara year-on-year (YoY) dibandingkan USD101,507 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menempatkan perseroan dalam posisi keuangan yang semakin kokoh untuk mengakselerasi agenda ekspansi panas bumi ke depan.

"Sepanjang kuartal I-2026, PGE mencatatkan laba bersih sebesar USD43,899 juta. Angka ini meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu USD31,352 juta," ujar Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PGE, dalam keterangan resminya, Selasa (29/4/2026).

Fransetya menambahkan, pertumbuhan tersebut bukan sekadar hasil kondisi pasar yang menguntungkan, melainkan cerminan dari strategi bisnis berkelanjutan yang dieksekusi secara konsisten. Menurutnya, capaian ini menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.

Dari sisi neraca keuangan, laporan interim per 31 Maret 2026 mencatat total aset perseroan mencapai USD3,06 miliar, naik 0,71 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Ekuitas tercatat sebesar USD2,09 miliar atau menguat 2,23 persen, sementara kas dan setara kas tumbuh 3,72 persen menjadi USD745,213 juta, menandakan likuiditas yang terjaga dengan baik.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebut, situasi global saat ini justru menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk makin serius mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Ahmad Yani berpendapat bahwa sebagai world leading geothermal producer, PGE memfokuskan pertumbuhan jangka panjang melalui 3 pilar utama, yakni optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.

"Kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru. Kinerja solid PGE dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Ke depan, capaian ini menjadi bekal bagi kami untuk terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Ahmad Yani, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).

Selain kinerja finansial, PGE juga mencatat prestasi signifikan di ranah keberlanjutan. Perseroan meraih skor ESG 7,1 dari Sustainalytics dengan predikat negligible risk, dan menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025 dari 15.000 perusahaan di 42 negara.

Capaian ini relevan dengan peta jalan energi nasional yang termuat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034. Dalam peta jalan tersebut, porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) ditargetkan mencapai 76 persen, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 gigawatt (GW).

PGEO juga tengah mengeksekusi diversifikasi bisnis ke sektor data center berbasis panas bumi berkapasitas 5 MW di Kamojang, Jawa Barat. Langkah ini mencerminkan strategi perseroan dalam memperluas sumber pendapatan berulang (recurring income) di luar segmen kelistrikan konvensional, sekaligus memperkuat peran PGE dalam ekosistem energi hijau Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index