JAKARTA — Laba bersih ASII kuartal I 2026 anjlok 15,6% menjadi Rp5,85 triliun, tertekan tajam oleh kinerja divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi akibat minimnya kontribusi tambang emas serta rendahnya alokasi RKAB batubara nasional.
PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,85 triliun atau setara Rp146 per saham sepanjang Januari hingga Maret 2026. Angka tersebut merosot 15,6% dibandingkan Rp6,93 triliun atau Rp171 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan per Maret 2026 yang dipublikasikan pada Rabu (29/4/2026) turut mengungkap koreksi pada sisi pendapatan. Pendapatan bersih perseroan tercatat Rp78,66 triliun, turun 5,62% dari Rp83,36 triliun di kuartal I 2025. Beban umum dan administrasi ikut melonjak 23,42% menjadi Rp6,02 triliun, sementara biaya keuangan turut naik ke angka Rp923 miliar.
"Penurunan alokasi RKAB batubara nasional tahun 2026 membuat pelanggan di sektor pertambangan menunda pembelian alat berat baru," tulis manajemen United Tractors dalam keterangan resminya yang dikutip dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi menjadi penekan utama kinerja Grup Astra pada kuartal perdana 2026. Laba bersih divisi ini ambruk 79% menjadi hanya Rp408 miliar. Penurunan tersebut diperberat oleh non-recurring charges sebesar Rp723 miliar yang diakui PT United Tractors Tbk (UT) dari bisnis nikel di kawasan hutan Stargate serta provisi penurunan nilai investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.
Tanpa memperhitungkan beban non-recurring itu, laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi sebenarnya turun 42% menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketiadaan penjualan emas dari Tambang Emas Martabe menjadi salah satu faktor terbesar yang memperlemah kontribusi divisi ini secara keseluruhan.
Penjualan alat berat merek Komatsu ikut terkoreksi 20% menjadi 1.107 unit, terutama karena penurunan permintaan dari sektor tambang yang paling terdampak kebijakan RKAB. PT Pamapersada Nusantara selaku penyedia jasa penambangan juga mencatatkan volume pengupasan lapisan tanah lebih rendah 7% menjadi 236 juta bank cubic metres.
Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur ASII, berpendapat bahwa meski sejumlah lini bisnis utama menghadapi tekanan, kontribusi positif dari segmen lain masih mampu menjaga resiliensi portofolio Grup yang terdiversifikasi sepanjang kuartal pertama 2026.
Di tengah tekanan divisi pertambangan, beberapa segmen lain justru mencatat pertumbuhan. Divisi otomotif dan mobilitas membukukan kenaikan laba bersih 4% menjadi Rp2,4 triliun, ditopang kinerja bisnis mobilitas dan komponen. Divisi agribisnis tumbuh 35% menjadi Rp298 miliar, didorong peningkatan volume penjualan CPO sebesar 6% menjadi 457.000 ton dengan harga relatif stabil di Rp14.556 per kilogram.
Divisi infrastruktur turut menorehkan kenaikan laba bersih 32% menjadi Rp343 miliar seiring tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Divisi properti juga melejit 145% menjadi Rp115 miliar, bersumber dari aset gudang industri yang baru diakuisisi. Secara keseluruhan, nilai aset bersih per saham ASII per 31 Maret 2026 naik 2% menjadi Rp5.810, sementara tanpa memperhitungkan seluruh non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar, laba bersih Grup sesungguhnya turun 8% menjadi Rp6,8 triliun.