JAKARTA – Aluminium merosot seiring ketidakpastian perang AS-Iran pukul pasar logam dasar yang memicu kekhawatiran gangguan permintaan industri dan aktivitas manufaktur.
Gejolak di Timur Tengah kembali memberikan tekanan hebat pada pergerakan harga komoditas logam di pasar internasional. Para pelaku pasar menunjukkan respon negatif terhadap kabar stagnasi perundingan keamanan antara pihak Washington dan Teheran.
Sentimen negatif ini merambat cepat ke bursa logam London dan Shanghai seiring dengan meningkatnya risiko gangguan ekonomi global. Pelaku pasar kini cenderung bersikap defensif menghadapi potensi eskalasi militer yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Ketegangan yang meningkat di Teluk telah merusak selera risiko investor, memaksa harga aluminium jatuh karena kekhawatiran akan perlambatan aktivitas industri di wilayah tersebut," ujar analis komoditas dari Marex, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Selasa (28/4/2026).
Analis tersebut berpendapat, bahwa terhentinya jalur diplomasi ini secara otomatis memperkuat posisi dolar AS yang pada gilirannya menekan harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut.
Aluminium untuk kontrak pengiriman 3 bulan di London Metal Exchange tercatat mengalami penurunan sebesar 1,2% menjadi 2.540 dolar AS per ton. Penurunan ini mencerminkan kegelisahan pasar terhadap prospek konsumsi logam untuk kebutuhan konstruksi dan transportasi global.
Logam industri lainnya seperti tembaga dan nikel juga terpantau mengikuti jejak pelemahan akibat minimnya sentimen positif dari sisi fundamental. Kondisi ini diperparah dengan rilis data manufaktur beberapa negara besar yang menunjukkan perlambatan tipis.
Hingga penutupan sesi perdagangan, tekanan jual terhadap aset-aset logam dasar masih mendominasi pergerakan di lantai bursa. Para trader memilih untuk membatasi eksposur mereka hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan biaya energi yang mungkin menyertai konflik ini juga menjadi ancaman tersendiri bagi operasional pabrik peleburan aluminium di berbagai belahan dunia. Situasi pasar diprediksi akan tetap berada dalam rentang fluktuasi yang tajam selama isu perang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.