Harga CPO Tertekan, Simak Analisis Pasar dan Faktor Pendorongnya

Jumat, 26 Juni 2026 | 12:10:59 WIB
Ilustrasi: Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia merosot ke level terendah dalam seminggu terakhir. (Foto: NET)

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot ke titik terendah dalam satu minggu terakhir pada Kamis (25/6/2026). Penurunan harga ini dipicu oleh kombinasi menguatnya nilai tukar ringgit, pelemahan harga minyak nabati di bursa Chicago dan Dalian, serta turunnya harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis (25/6/2026), kontrak berjangka CPO periode Juli 2026 turun 62 ringgit Malaysia menjadi 4.513 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak untuk Agustus 2026 anjlok 69 ringgit Malaysia ke posisi 4.535 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO September 2026 merosot 76 ringgit Malaysia ke level 4.557 ringgit Malaysia per ton. Untuk periode Oktober 2026, harga turun tajam 80 ringgit Malaysia menjadi 4.579 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO November 2026 menyusut 85 ringgit Malaysia menjadi 4.599 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga terjungkal 86 ringgit Malaysia ke level 4.623 ringgit Malaysia per ton.

Penguatan ringgit menyebabkan CPO Malaysia menjadi lebih mahal bagi importir asing sehingga mengurangi daya saing ekspor. Selain itu, penurunan harga minyak mentah mengurangi minat pasar terhadap CPO sebagai bahan baku biodiesel.

Otoritas Malaysia menurunkan harga acuan ekspor CPO untuk Juli, namun tarif bea keluar tetap dipertahankan sebesar 10 persen. Meski demikian, permintaan ekspor CPO tetap menunjukkan indikator positif di tengah tekanan koreksi harga.

Estimasi data survei kargo menunjukkan ekspor minyak kelapa sawit Malaysia periode 1–20 Juni melesat berkisar 19,1 persen sampai 25 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan Mei. Lonjakan permintaan ini membantu menahan kejatuhan harga agar tidak lebih dalam.

Pasar juga mencermati kecemasan stok global akibat cuaca ekstrem El Niño yang menghambat produktivitas lahan sawit. Faktor ini berisiko menahan laju penambahan volume produksi di berbagai daerah.

Sentimen positif muncul dari Indonesia yang akan memberlakukan biodiesel B50 secara mandatori mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diprediksi akan meningkatkan penyerapan CPO domestik serta mengurangi alokasi ekspor.

India diproyeksikan menaikkan volume impor minyak sawit pada Juni hingga menembus 600.000 ton, naik dari 549.356 ton pada Mei. Langkah negara importir terbesar di dunia ini diperkirakan mampu mendongkrak kembali harga CPO dalam jangka pendek.

Terkini