SURABAYA – PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) Menargetkan perolehan penjualan sebesar Rp200 miliar melalui eksibisi properti terintegrasi bertajuk Pesta KPR 2026. Strategi ini dijalankan perseroan guna menjaga kinerja pemasaran di tengah proyeksi kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, mengatakan bahwa dalam eksibisi di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya pada 25–28 Juni 2026, Pakuwon Group berkolaborasi dengan sembilan perbankan besar nasional. Langkah taktis ini bertujuan untuk menjaring segmen pembeli akhir (end-user) di tengah tren pengetatan kebijakan moneter.
Dia memproyeksikan, suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) berpotensi naik hingga tiga kali lagi sampai akhir tahun 2026 akibat tekanan inflasi global yang belum mereda. Kondisi tersebut dinilai akan memicu penyesuaian suku bunga acuan domestik (BI-Rate) demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Bagi pembeli akhir (end-user) yang memang membutuhkan hunian, momen saat ini adalah kesempatan terbaik untuk mengunci skema pembiayaan sebelum suku bunga pasar dan harga material bangunan melonjak lebih jauh," jelas Sutandi di Surabaya, Kamis (25/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Untuk memberikan kepastian kepada calon debitur, Pakuwon bersama perbankan mitra mengandalkan produk KPR dengan skema suku bunga fixed dan berjenjang sepanjang tenor, yang dimulai dari level 2,8 persen hingga 3 persen. Skema ini dirancang untuk meminimalisasi risiko lonjakan cicilan akibat suku bunga mengambang (floating rate) yang fluktuatif di pasar.
Sutandi menambahkan bahwa mayoritas konsumen yang memanfaatkan pembiayaan perbankan saat ini lebih memilih skema proteksi bunga tersebut. "Dari total transaksi penjualan properti yang menggunakan metode kredit di Pakuwon, sekitar 80% konsumen memilih skema suku bunga berjenjang. Saat ini, metode pembayaran KPR masih mendominasi bauran transaksi kami sebesar 65%, sedangkan sisanya sekitar 35% menggunakan tunai keras maupun tunai bertahap," paparnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Guna menarik minat pasar, perseroan menyediakan stimulus tambahan seperti uang muka (down payment) mulai dari 5 persen, pembebasan biaya KPR, subsidi BPHTB, diskon tanda jadi 50 persen, insentif PPN ditanggung pemerintah hingga Rp220 juta, serta unit apartemen siap huni yang berperabot lengkap (fully furnished). Manajemen menargetkan transaksi penjualan minimal mencapai Rp200 miliar selama eksibisi berlangsung.
Saat ini, portofolio produk siap huni perseroan di kawasan Grand Pakuwon tercatat sekitar 99 unit rumah, di kawasan Pakuwon City sekitar 60 unit rumah, serta sisa ruang apartemen siap huni di Surabaya Timur sebanyak 150 unit. Perseroan juga bersiap meluncurkan klaster dan menara apartemen baru pada semester II/2026 dengan proyeksi penyesuaian harga menyusul kenaikan biaya investasi.
Di sisi lain, lini bisnis pendapatan berulang (recurring income) dari sektor ritel dan pusat perbelanjaan Pakuwon Group di Surabaya dilaporkan masih mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang liburan sekolah Juni 2026. Meskipun mengantisipasi potensi pelemahan aktivitas ritel pada kuartal III/2026, pergerakan jumlah kunjungan (traffic) pusat perbelanjaan diyakini tetap terjaga berkat masifnya penyelenggaraan acara kreatif.
"Hingga pertengahan Juni 2026, volume kunjungan mal di bawah naungan Pakuwon Group diproyeksikan masih membukukan pertumbuhan tahunan pada kisaran satu digit (single digit), atau tumbuh sekitar 7% hingga 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu," tuturnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita.