Insiden Kapal Kargo di Oman Dorong Kenaikan Harga Minyak 2 Persen

Insiden Kapal Kargo di Oman Dorong Kenaikan Harga Minyak 2 Persen
Ilustrasi: Kapal kargo di perairan Oman terkena hantaman proyektil misterius, memicu kenaikan harga minyak dunia. (Foto: NET)

JAKARTA – Harga minyak dunia mencatatkan kenaikan lebih dari 2 persen pada Kamis setelah muncul laporan mengenai sebuah kapal kargo yang terkena hantaman proyektil misterius di dekat perairan Oman.

Peristiwa tersebut menyebabkan proses evakuasi kapal dari jalur pelayaran vital Selat Hormuz terhenti, sehingga memicu kembali kekhawatiran terkait kelancaran pasokan minyak mentah global.

Arus distribusi minyak dan gas bumi sebenarnya telah terganggu sejak terjadinya serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu.

Meski begitu, kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang sebelumnya sempat membuat lalu lintas kapal kembali normal di selat tersebut, setelah sempat diblokade secara efektif oleh pihak Iran.

Sebagaimana dilansir dari sumber berita, Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) pada Kamis membekukan sementara waktu upaya pengawalan kapal beserta awaknya yang melintasi Selat Hormuz pasca adanya laporan dugaan serangan dari kapal kargo.

Kejadian ini memunculkan kembali spekulasi serta kecemasan bahwa komitmen awal untuk menyudahi perang Iran tidak akan bertahan lama.

Setelah perdagangan pasar minyak ditutup pada Kamis, dua orang pejabat AS menyampaikan kepada Reuters bahwa Iran melepaskan tembakan ke arah kapal kargo tersebut ketika kapal itu tengah mencoba melewati jalur selat, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Di sisi lain, otoritas Iran memberikan pernyataan bahwa keamanan bagi kapal-kapal yang berlayar di luar jalur resmi Selat Hormuz berada di luar jaminan mereka.

Harga minyak mentah jenis Brent menanjak 2,1 persen dan menetap di angka USD75,26 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,3 persen ke posisi USD71,92 per barel.

Pada Rabu, kedua acuan harga minyak dunia tersebut sempat terperosok ke level terendah sejak tanggal 27 Februari, yakni sehari sebelum konflik bersenjata dimulai.

Saat itu, pengiriman komoditas minyak melalui Selat Hormuz sempat meningkat ke level tertingginya sejak perang pecah.

Sebelum perang berlangsung, kurang lebih sebanyak 20 persen dari total pasokan minyak global melintasi kawasan selat yang terletak di antara Iran dan Oman tersebut.

"Persediaan di tangki penyimpanan di seluruh kawasan Teluk berada sekitar 50 persen hingga 60 persen penuh. Jika lalu lintas kapal tanker melalui selat tidak segera pulih, produsen harus mengurangi produksi, dan pemulihan penuh dapat tertunda hingga tahun depan," kata analis dari konsultan energi Rystad Energy dalam laporan mereka, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan kepada para sekutu di wilayah Teluk pada Kamis bahwa tiap kesepakatan dengan Iran nantinya tetap akan mempertimbangkan kepentingan mereka.

Pernyataan ini disampaikan saat Rubio merampungkan kunjungan kerjanya ke Timur Tengah demi menghimpun dukungan dari mitra regional yang masih menyimpan kekhawatiran atas kesepakatan awal tersebut.

AS bersama enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menegaskan bahwa perdamaian yang berkelanjutan wajib menyertakan resolusi terkait rudal balistik Iran, drone, serta sokongan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi.

Mereka juga memberikan dukungan bagi pelayaran yang bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan di area Selat Hormuz tanpa adanya pungutan, biaya, ataupun upaya untuk mendominasi jalur tersebut.

"Jika Iran mengancam atau memblokir kapal-kapal di selat itu, maka kami akan menghadapi masalah," ujar Rubio, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sebelumnya, ia mengutarakan kepada para menteri bahwa tidak ada satu pun negara di dunia yang memegang hak untuk menetapkan biaya atas pemanfaatan jalur perairan internasional, dan pungutan terhadap pelayaran tidak akan pernah dimasukkan ke dalam bagian dari kesepakatan mana pun.

Namun, sebuah laporan dari Wall Street Journal menyebutkan pihak Iran mengestimasikan bahwa pungutan atas layanan keamanan, keselamatan, serta lingkungan di selat tersebut berpotensi menghasilkan dana USD40 miliar per tahun bagi negara-negara terlibat, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kontrak berjangka bensin AS melonjak sekitar 5 persen, sementara harga diesel AS merangkak naik sekitar 4 persen.

Sejumlah analis turut menyebutkan bahwa faktor pembelian teknikal serta aksi penutupan posisi jual (short covering) ikut mendorong momentum kenaikan harga.

Konsultan energi Gelber & Associates memaparkan dalam catatan risetnya bahwa pasar minyak sebelumnya telah didera tekanan jual dan berada dalam situasi yang semakin jenuh jual (oversold), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati harga minyak berhasil menguat pada Kamis, kedua acuan minyak tersebut tercatat masih tertahan di zona teknikal oversold selama lebih dari sepekan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index