JAKARTA – Rencana PT Indosat Tbk (ISAT) bersama Ooredoo Group untuk mengembangkan platform komputasi kecerdasan buatan (AI) Zankore dinilai berpotensi menjadi motor pertumbuhan baru bagi Indosat. Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dalam risetnya pada 10 Agustus 2026 menilai pembentukan Zankore sebagai langkah positif bagi ISAT karena tidak perlu menanggung seluruh kebutuhan investasi infrastruktur GPU secara langsung.
“Zankore menghilangkan kebutuhan ISAT untuk berinvestasi langsung pada infrastruktur GPU mulai tahun fiskal 2027,” tulis Aurelia dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sebagai informasi, ISAT dan Ooredoo Group resmi mengumumkan pembentukan Zankore pada 6 Agustus 2026. Platform AI computing serta neocloud ini dikembangkan bersama NVIDIA dan Nokia dengan target kapasitas NVIDIA DSX AI Factory hingga 1 gigawatt (GW).
Pada tahap awal, proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas 200 megawatt (MW) dan siap beroperasi pada semester I 2027. Fasilitas tersebut akan memakai sistem NVIDIA GB300 NVL72 dengan NVIDIA DSX MaxLPS yang dirancang mampu menghasilkan komputasi hingga 40% lebih tinggi dalam batas penggunaan daya yang sama.
Ooredoo Group akan menginvestasikan US$ 800 juta demi mengantongi 49% kepemilikan di Zankore. Adapun sisa 51% saham lainnya akan dimiliki oleh ISAT, NVIDIA, dan Nokia.
Berdasarkan pengungkapan manajemen, Zankore ditargetkan mampu menghasilkan akumulasi pendapatan sekitar US$ 13 miliar serta EBITDA US$ 9 miliar dalam rentang waktu lima tahun.
Aurelia memperkirakan estimasi tersebut setara dengan pendapatan sekitar US$ 13 juta per MW per tahun. Proyeksi ini masih masuk dalam kisaran rata-rata perusahaan AI cloud global yang mencapai US$ 10 juta-US$ 15 juta per MW per tahun.
Untuk menggarap tahap awal berkapasitas 200 MW, Indo Premier memperkirakan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) berada di kisaran US$ 4 miliar-US$ 5 miliar. Perhitungan tersebut mengasumsikan biaya pengembangan sekitar US$ 20 juta-US$ 25 juta per MW.
Dengan investasi ekuitas sekitar US$ 1,6 miliar berbasis 100%, kebutuhan pembiayaan utang proyek diperkirakan mencapai US$ 2,4 miliar-US$ 3,4 miliar.
Melalui asumsi pendapatan tahunan US$ 10 juta-US$ 13 juta per MW dan margin EBITDA 69%, Indo Premier mengkalkulasi proyek Zankore dapat menghasilkan internal rate of return (IRR) sekitar 12%-13%. Waktu pengembalian investasi ekuitas juga diproyeksikan berlangsung kurang dari tiga tahun.
Dampak terhadap kinerja Indosat turut menjadi perhatian utama para investor. Merujuk pada diskusi bersama manajemen ISAT, Indo Premier memperkirakan Indosat bakal memegang porsi paling besar dari sisa 51% porsi kepemilikan Zankore.
Dengan asumsi ISAT menguasai 20%-30% saham Zankore, Aurelia memperkirakan kebutuhan investasi ekuitas Indosat berkisar antara US$ 327 juta-US$ 490 juta.
Tingkat kepemilikan tersebut berpotensi menyumbang laba bersih yang dapat diatribusikan kepada ISAT sekitar US$ 64 juta-US$ 131 juta per tahun.
Bahkan jika 70% kebutuhan investasi porsi ISAT dibiayai utang, proyek Zankore masih berpotensi memberi tambahan 11%-29% terhadap proyeksi laba bersih inti (core net profit) ISAT untuk tahun fiskal 2027-2028. “Proyek ini akan bersifat earnings accretive bagi ISAT,” tulis Aurelia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Indo Premier, struktur pembentukan Zankore juga dapat menekan risiko eksekusi dan kebutuhan belanja modal awal yang harus ditanggung langsung oleh Indosat. Hal ini dikarenakan pengembangan infrastruktur GPU dijalankan lewat entitas bersama Ooredoo, NVIDIA, dan Nokia.
Di samping mendongkrak laba, keberhasilan Zankore berpeluang membukakan pintu bagi re-rating valuasi ISAT. Sektor bisnis AI cloud umumnya diperdagangkan pada kelipatan EV/EBITDA yang lebih tinggi dibandingkan bisnis operator telekomunikasi tradisional.
Meski demikian, Indo Premier belum memasukkan potensi kontribusi Zankore ke dalam kalkulasi keuangan ISAT karena masih menantikan detail informasi dan struktur proyek lebih lanjut.
Dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ISAT serta menaikkan target harga menjadi Rp 3.600 dari sebelumnya Rp 3.100 per saham.
Aurelia memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ISAT tahun ini masing-masing mencapai Rp 62,24 triliun dan Rp 5,16 triliun. Sedangkan untuk tahun 2027, pendapatan dan laba bersih ISAT diperkirakan mampu menyentuh Rp 66,49 triliun dan Rp 5,05 triliun.
Per Senin (10/8/2026), harga saham ISAT ditutup melemah 3,23% ke level Rp 2.100 per saham.