Buka Opsi Right Issue, RATU Roadshow ke Investor Strategis

Buka Opsi Right Issue, RATU Roadshow ke Investor Strategis
Ilustrasi raharja energi cepu (sumber foto: NET)

JAKARTA – PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) akhir-akhir ini membuka peluang skema pendanaan baru melalui penerbitan saham baru atau right issue.

Pihak manajemen RATU dilaporkan telah melangsungkan penjajakan atau roadshow ke beberapa investor strategis di Jakarta, Singapura, hingga Thailand.

Munculnya opsi right issue ini seiring tingginya kebutuhan dana perseroan guna meloloskan agenda akuisisi hak partisipasi atau participating interest (PI) di sejumlah blok migas beberapa tahun ke depan.

“Masih penjajakan dan presentasi ke berbagai calon investor,” kata Direktur RATU Adrian Hartadi saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, emiten hasil kongsi pengusaha Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu tersebut telah merampungkan pengambilalihan 20 persen PI di Madura Strait PSC, lapangan gas Jawa Timur yang dikelola oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).

Melalui PT Raharja Energi Madura (REM), RATU menguasai 100 persen saham SMS Development Limited (SMSD) yang sebelumnya memegang 20 persen PI Madura Strait PSC.

Proses akuisisi porsi ekonomi Madura Strait PSC tersebut menghabiskan dana mendekati US$141,21 juta. Angka tersebut mencakup pembelian saham SMSD senilai US$62,51 juta, shareholder loan agreement bagian perjanjian novasi sekitar US$59,2 juta, serta klausul contingent payment maksimal US$19,5 juta.

PT Raharja Energi Madura (REM) menandatangani kesepakatan pinjaman bilateral dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bernilai pokok US$109,2 juta. Fasilitas kredit tersebut dimanfaatkan untuk mendanai pembelian seluruh saham SMSD beserta perjanjian novasi terkait.

“[Madura Strait] ini akan berkontribusi sejak 1 Januari 2026, sehingga akan menambah net income ke RATU full year 2026 estimasi sekitar US$10 juta-US$15 juta,” kata Adrian dalam siniar bersama Samuel Sekuritas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebelumnya, RATU juga telah menuntaskan pembelian 5 persen PI wilayah kerja (WK) Kasuri lewat anak usahanya, PT Raharja Energi Negeri (PT REN). Nilai akuisisi 5 persen porsi partisipasi pada Blok Kasuri tersebut mencapai US$9,64 juta.

Adapun Blok Kasuri dikelola oleh Genting Oil Kasuri Pte Ltd (GOKPL), unit bisnis Genting Group yang dimiliki taipan kasino asal Malaysia, Lim Kok Thay.

Pengembangan lapangan gas tersebut diperkirakan menyerap investasi hingga US$3,37 miliar atau sekitar Rp52,5 triliun. Pemerintah telah menetapkan proyek gas di Papua Barat ini sebagai proyek strategis nasional (PSN) sejak awal 2024.

Berdasarkan data SKK Migas, Blok Kasuri mengandung cadangan gas mencapai 2,24 trillion standard cubic feet (TSCF). Pasca persetujuan rencana pengembangan (PoD) I pada 2023, puncak produksi gas dari wilayah tersebut diproyeksikan menyentuh 330 MMScfd.

Beberapa calon pembeli gas potensial dari kawasan ini antara lain PT Pupuk Kaltim, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, serta afiliasi Genting Oil yakni PT Layar Nusantara Gas.

PT Layar Nusantara Gas nantinya bakal dijadikan media bagi Genting Oil dalam mendistribusikan gas dari Blok Kasuri menggunakan armada floating liquified natural gas (FLNG).

Di perusahaan tersebut, entitas induk RATU yaitu PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencaplok 5 persen saham dengan nilai transaksi US$38,57 juta.

RAJA sudah menyerahkan dana deposit kepada Genting Berhad pada 8 Mei 2026 terkait proses pembelian saham PT Layar Nusantara Gas.

Ekspansi RATU

Beriringan dengan penjajakan right issue, manajemen RATU tengah mengincar akuisisi blok migas baru untuk beberapa tahun mendatang. Sejumlah aset migas mancanegara juga masuk dalam radar pengamatan, seperti di Malaysia, Thailand, Irak, Turki, Australia, hingga Amerika Serikat.

Proses negosiasi atas beberapa aset potensial tersebut masih berjalan di tengah melonjaknya harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Beberapa penjual mengindikasikan harga minyak berada di kisaran US$100 per barel. “Menurut saya, decent price-nya di US$60-US$70 per barel seperti yang kemarin,” kata Adrian sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini, RATU telah terlibat dalam pengelolaan Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). RATU menggenggam PI 2,24 persen di Blok Cepu melalui kepemilikan saham di PT Petrogas Jatim Utama Cendana.

Selain itu, RATU turut berpartisipasi pada Blok Jabung yang dikelola oleh PT Petrochina International Jabung Ltd dengan memegang 8 persen PI.

Sejak pencatatan perdana di bursa pada Januari 2025, harga saham RATU telah melambung 343,48 persen ke posisi Rp5.100 per saham hingga perdagangan pagi ini, Rabu (22/7/2026).

RATU diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 52,27 kali dalam setahun terakhir (TTM), serta nilai price to book value (PBV) di posisi 15,16 kali.

Tingkat valuasi ini tergolong premium apabila dibandingkan dengan emiten sejenis seperti PT Medco Energi International Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Sebagai pembanding, MEDC dan ENRG masing-masing berada pada valuasi 13,07 kali dan 25,86 kali P/E, sementara PBV keduanya berada di kisaran 0,88 kali dan 2,54 kali.

Meski demikian, Henan Sekuritas memprediksi laba bersih RATU pada tahun ini dapat menyentuh US$32,7 juta, didukung perolehan pendapatan sekitar US$51,9 juta dan adjusted EBITDA sekitar US$52,6 juta.

“Kinerja keuangan RATU sangat bergantung pada kuantitas dan kualitas sumur pengeboran yang dikelola oleh operator wilayah kerja migas,” dikutip dari riset Henan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di pihak lain, Samuel Sekuritas mengungkapkan bahwa manajemen RATU menyiapkan tujuh agenda akuisisi dalam daftar rencana untuk tiga tahun ke depan, setelah dua transaksi sebelumnya pada Madura Strait dan Blok Kasuri sukses diselesaikan.

Tujuh rencana akuisisi tersebut diperkirakan memerlukan investasi berkisar antara US$10 juta hingga US$150 juta untuk setiap proyeknya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index