JAKARTA – Pasar saham kawasan Asia bergerak bervariasi pada hari Selasa. Penguatan dipimpin oleh bursa Korea Selatan dan Singapura di tengah kecermatan investor atas keputusan Reserve Bank of Australia mempertahankan suku bunga serta kekhawatiran inflasi dan tingginya harga minyak.
Indeks MSCI AC Asia Pacific tercatat menguat 0,2 persen setelah sempat berfluktuasi. Sementara itu, futures Nasdaq 100 naik 0,3 persen dan futures S&P 500 bertambah 0,1 persen.
Kondisi ini terjadi seiring langkah investor mencerna ketidakpastian baru di sekitar Selat Hormuz. Harapan kesepakatan damai yang cepat meredup usai Presiden AS Donald Trump menolak tuntutan ganti rugi dari pihak Iran.
Fokus pelaku pasar juga tertuju pada data CPI AS hari Rabu. Inflasi utama Juli diproyeksikan tumbuh 0,1 persen setelah sebelumnya turun 0,4 persen pada Juni, yang berpotensi memicu kekhawatiran The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Indeks KOSPI Korea Selatan menguat 0,8 persen ke posisi kisaran 6.348 dipicu lonjakan saham Samsung Electronics sebesar 6 persen. Penguatan saham sektor semikonduktor ini menjadi penopang utama indeks tersebut.
Saham TSMC menguat 0,8 persen pascalaporan lonjakan penjualan Juli sebesar 45 persen secara tahunan. Capaian ini makin mempertegas tingginya permintaan terhadap chip berbasis kecerdasan buatan.
Secara umum sentimen pada sektor teknologi tetap positif seiring dorongan kembali saham-saham semikonduktor. Pergerakan ini sekaligus membalikkan kondisi pekan lalu saat investor melakukan penilaian ulang atas tingginya valuasi produsen chip AI.
Tema teknologi di tingkat regional masih tertopang oleh bukti solidnya permintaan sektor AI. TSMC mencatatkan lonjakan penjualan Juli hingga 45 persen dengan kenaikan saham tipis 0,4 persen.
Di samping itu, Nvidia mengumumkan kerja sama dengan enam lembaga keuangan besar untuk merilis platform pembiayaan komputasi. Platform tersebut ditargetkan dapat menghimpun modal pihak ketiga melebihi $500 miliar demi infrastruktur AI.
Berbeda halnya dengan saham-saham di China yang cenderung lesu. Indeks Shanghai Shenzhen CSI 300 tergerus 0,2 persen, Shanghai Composite relatif stagnan, dan Hang Seng Hong Kong melorot 0,7 persen.
Perkembangan domestik Indonesia turut menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia. Analis Citi memprediksi DPR akan memberikan persetujuan pasca uji kelayakan dan kepatutan jelang atau sesudah rapat kebijakan 19 Agustus, yang dinilai menjaga kesinambungan arah kebijakan.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan hingga hampir 1 persen.
Dari Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,3 persen pasca keputusan bulat RBA mempertahankan suku bunga di level 4,35 persen. RBA menilai inflasi masih tinggi kendati aktivitas ekonomi mulai melambat.
Nilai tukar AUD/USD cenderung stabil seiring investor mencermati sinyal RBA yang siap bertindak jika risiko inflasi kembali melonjak.
Tony Sycamore, selaku Analis pasar senior IG, mengungkapkan bahwa angka 9.000 telah menjadi batas support kuat dan bahwa ASX 200 berpotensi melanjutkan penguatan menuju target 9.350 jika mampu bertahan di atas level tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Namun, Sycamore juga memberikan peringatan bahwa maraknya rilis laporan keuangan mendatang berisiko membawa lebih banyak kekecewaan dibanding kejutan positif, sehingga memicu potensi pengujian ulang level support 9.000 dalam kurun beberapa pekan ke depan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, keputusan RBA yang mempertahankan suku bunga kas di tingkat 4,35 persen sudah diantisipasi pasar sejak awal.
Analis ANZ mengungkapkan bahwa pihak kami memperkirakan keputusan tersebut diambil secara bulat untuk menahan suku bunga, kendati jajaran dewan diprediksi tetap mempertimbangkan opsi kenaikan maupun penahanan suku bunga sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Faktor pengangguran yang lebih tinggi serta inflasi dan data aktivitas ekonomi yang lebih rendah dari proyeksi RBA bulan Mei menjadi dasar pertimbangan penahanan suku bunga tersebut.
Sementara itu, indeks FTSE Straits Times Singapura melonjak lebih dari 1 persen hingga menorehkan rekor baru berkat penguatan saham OCBC. Adapun indeks Nifty 50 India mengalami penurunan 0,6 persen.