FTSE Russell Putuskan Status Freeze dan Dampak ke IHSG serta Blue Chip

FTSE Russell Putuskan Status Freeze dan Dampak ke IHSG serta Blue Chip
Ilustrasi pasar saham (FOTO : NET)

JAKARTA – Keputusan FTSE Russell terkait status pembekuan pasar saham Indonesia bakal menjadi penentu arah pergerakan IHSG dalam beberapa pekan mendatang.

Apabila pelonggaran atau pencabutan status freeze dilakukan, saham-saham blue chip berpeluang besar menarik aliran modal asing, sedangkan perpanjangan pembekuan dapat menghambat laju pasar.

Proses evaluasi atas status pembekuan pasar saham Indonesia oleh FTSE Russell dijadwalkan berlangsung pada 21 Agustus 2026. Hasil dari evaluasi tersebut bakal mulai diterapkan secara efektif pada 18 September 2026.

Masa perpanjangan status freeze untuk Indonesia sebelumnya telah ditetapkan FTSE Russell sejak 22 Juni 2026. Pada penyesuaian indeks Juni lalu, delapan emiten Indonesia dikeluarkan akibat kendala free float serta tingginya pemusatan kepemilikan saham.

Peluang dilanjutkannya status freeze dinilai masih cukup terbuka oleh Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas. Hal ini terjadi lantaran FTSE Russell diperkirakan masih menunggu bukti penerapan reformasi pasar yang konsisten dari regulator.

Kendati demikian, fluktuasi IHSG tetap berpotensi terpicu oleh keputusan FTSE, khususnya lewat pergeseran aliran dana asing.

"Bila status freeze dipertahankan, reaksi pasar cenderung terbatas karena skenario tersebut telah cukup diantisipasi," kata Sukarno kepada Kontan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, potensi pendorong positif dapat tercipta jika status freeze dicabut atau dilonggarkan. Investor luar negeri berkesempatan untuk menambah porsi investasinya di Indonesia, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang masuk ke dalam indeks global.

Kemungkinan FTSE Russell melonggarkan status pembekuan dinilai terbuka oleh Co-Founder Pasar Dana sekaligus pengamat pasar modal Hans Kwee. Hal tersebut sejalan dengan langkah regulator yang terus membenahi keterbukaan data kepemilikan saham dan informasi.

Di samping itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan probabilitas pencabutan status freeze berada di rentang 30 persen hingga 40 persen.

Menurut penilaiannya, keberlanjutan penerapan kebijakan, efektivitas langkah reformasi, serta peningkatan integritas dan aksesibilitas pasar masih menjadi poin perhatian FTSE Russell.

Saham blue chip diprediksi bakal menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila status pembekuan resmi dihentikan. Emiten berkapitalisasi besar serta bertingkat likuiditas tinggi akan lebih gampang dilirik investor asing dalam penyesuaian ulang portofolio mereka di pasar domestik.

Meski begitu, pergerakan IHSG tidak melulu bergantung pada keputusan FTSE semata. Faktor lain seperti kurs rupiah, arus modal asing, arah suku bunga global, harga komoditas, dan performa emiten pada semester II-2026 turut memegang peranan penting.

Untuk pergerakan pekan ini, Nafan memproyeksikan IHSG berada di rentang support 6.354-6.292 serta resistance 6.454-6.554.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index