JAKARTA – Daftar saham blue chip terbaru di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami perubahan yang resmi berlaku efektif mulai hari ini, Senin 3 Agustus 2026.
Saham blue chip merupakan saham lapis satu yang berkapitalisasi pasar besar hingga puluhan atau ratusan triliun rupiah, berlikuiditas tinggi, serta memiliki fundamental solid dan berpengalaman di pasar modal.
Perombakan susunan Indeks LQ45 dilakukan oleh BEI per 3 Agustus 2026. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) terdepak dari indeks saham unggulan ini, lalu posisinya digantikan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Mengacu pada pengumuman evaluasi berkala BEI tanggal 27 Juli 2026, saham INDY resmi menggenggam bobot 0,25 persen di Indeks LQ45, sementara NCKL mengantongi bobot sebesar 0,46 persen.
Penyesuaian susunan konstituen ini merupakan bagian dari evaluasi rutin BEI yang memperhitungkan faktor fundamental emiten, kapitalisasi pasar, hingga likuiditas perdagangan.
SMGR beserta TOWR dinilai tidak lagi mampu memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh pihak bursa. Terhitung sejak awal tahun 2026 sampai 31 Juli kemarin, harga saham SMGR terdepresiasi 45,11% atau 1.200 poin ke posisi Rp 1.460.
Di saat yang sama, pergerakan harga saham TOWR juga merosot 181 poin atau 30,94% ke kisaran Rp 404.
Penurunan harga saham tersebut berdampak langsung pada posisi kedua emiten di Indeks LQ45 akibat tergerusnya kapitalisasi pasar serta likuiditas perdagangan.
Masuknya NCKL dan INDY ke jajaran LQ45 berpotensi mendatangkan passive inflow dari investor institusi maupun produk investasi yang memakai indeks tersebut sebagai acuan.
Di sisi lain, saham-saham yang terdepak dari LQ45 berisiko menghadapi tekanan jual jangka pendek lantaran adanya penyesuaian portofolio oleh reksa dana indeks dan manajer investasi.
Pemilihan INDY dan NCKL didasari oleh likuiditas perdagangan serta kapitalisasi pasar yang telah memenuhi kriteria bursa. Hadirnya kedua emiten ini sekaligus memperluas variasi sektor di LQ45 yang selama ini terdominasi saham perbankan berkapitalisasi besar.
Mengantongi bobot masing-masing 0,25% dan 0,46%, porsi kedua emiten tersebut masih berada jauh di bawah ambang batas maksimum bobot per saham LQ45 yang ditetapkan sebesar 15%.
Evaluasi mayor perikatan ini turut menggeser porsi bobot beberapa saham bank utama yang menjadi konstituen Indeks LQ45.
Bobot saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusut ke angka 15,00% dari semula 16,79%. Lalu, bobot PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi menjadi 13,23% dari 13,71%.
Berbanding terbalik, porsi bobot PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru menanjak menjadi 10,91% dari sebelumnya 10,46%.
Pergeseran porsi bobot ini mencerminkan langkah BEI dalam menjaga diversifikasi indeks sekaligus membatasi konsentrasi pada emiten tertentu via batas maksimal bobot 15%.
Terkikisnya bobot BBRI dan BBCA memberi ruang perluasan porsi bagi saham non-perbankan di LQ45, termasuk deretan emiten baru yang memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas memadai.
Informasi perombakan konstituen serta pergeseran bobot saham LQ45 sangat krusial bagi investor karena berpotensi memengaruhi arus dana investasi, khususnya dari investor institusional dan produk reksa dana indeks.
Proses rebalancing yang berlaku efektif pada 3 Agustus 2026 ini berpotensi meningkatkan volatilitas transaksi saham yang keluar maupun masuk indeks dalam jangka pendek, sebelum pergerakannya kembali mencerminkan fundamental masing-masing emiten.
Berikut adalah daftar saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 untuk periode 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026:
AADI - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
ADMR - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk
ADRO - PT Adaro Energy Tbk
AKRA - PT AKR Corporindo Tbk
AMMN - PT Amman Mineral Internasional Tbk
AMRT - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk
ANTM - PT Aneka Tambang Tbk
ASII - PT Astra International Tbk
BBCA - PT Bank Central Asia Tbk
BBNI - PT Bank Negara Indonesia Tbk
BBRI - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
BBTN - PT Bank Tabungan Negara Tbk
BMRI - PT Bank Mandiri Tbk
BRPT - PT Barito Pacific Tbk
BUMI - PT Bumi Resources Tbk
CPIN - PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
CUAN - PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk
DEWA - PT Darma Henwa Tbk
EMTK - PT Elang Mahkota Teknologi Tbk
ESSA - PT ESSA Industries Indonesia Tbk
EXCL - PT XL Axiata Tbk
GOTO - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
HRTA - PT Hartadinata Abadi Tbk
ICBP - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
INCO - PT Vale Indonesia Tbk
INDF - PT Indofood Sukses Makmur Tbk
INDY - PT Indika Energy Tbk
INKP - PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk
ISAT - PT Indosat Tbk
ITMG - PT Indo Tambangraya Megah Tbk
JPFA - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk
KLBF - PT Kalbe Farma Tbk
MAPI - PT Mitra Adiperkasa Tbk
MBMA - PT Merdeka Battery Materials Tbk
MDKA - PT Merdeka Copper Gold Tbk
MEDC - PT Medco Energi Internasional Tbk
NCKL - PT Trimegah Bangun Persada Tbk
PGAS - PT Perusahaan Gas Negara Tbk
PGEO - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk
PTBA - PT Bukit Asam Tbk
SCMA - PT Surya Citra Media Tbk
TLKM - PT Telkom Indonesia Tbk
UNTR - PT United Tractors Tbk
UNVR - PT Unilever Indonesia Tbk
WIFI - PT Solusi Sinergi Digital Tbk