Proyeksi Defisit APBN 2026 Jadi 2,85 Persen Akibat Belanja Membengkak

Proyeksi Defisit APBN 2026 Jadi 2,85 Persen Akibat Belanja Membengkak
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp 734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada akhir tahun 2026 akan melebar menjadi Rp 734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini melampaui target awal APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

"Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp 734,3 triliun dengan persentase sebesar 2,85 persen terhadap PDB," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pelebaran defisit ini disebabkan oleh realisasi belanja negara yang diperkirakan melampaui target awal. Kementerian Keuangan memproyeksikan belanja negara akan mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari target awal Rp 3.842,7 triliun.

Percepatan belanja pemerintah pusat diperkirakan mencapai Rp 3.245,5 triliun, atau 103 persen dari target awal Rp 3.149,7 triliun. Secara rinci, belanja kementerian dan lembaga diproyeksikan mencapai Rp 1.630,4 triliun, sementara belanja non-kementerian dan lembaga sebesar Rp 1.615,1 triliun.

Realisasi transfer ke daerah juga diperkirakan hampir menyamai target, yakni sebesar Rp 696,9 triliun atau 100,6 persen dari target Rp 693 triliun.

Pendapatan negara pun diproyeksikan melampaui target APBN 2026, yakni mencapai Rp 3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari pagu Rp 3.153,6 triliun. Penerimaan perpajakan diproyeksikan mencapai Rp 2.631,4 triliun, yang terdiri dari penerimaan pajak Rp 2.310,8 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp 320,6 triliun.

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan melampaui target dengan nilai Rp 575,1 triliun atau 125,2 persen dari pagu Rp 459,2 triliun. Dengan proyeksi tersebut, keseimbangan primer diperkirakan defisit sebesar Rp 152,1 triliun, lebih tinggi dari target awal sebesar Rp 89,7 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index