JAKARTA – Kinerja PT Timah Tbk (TINS) mengalami peningkatan pesat seiring dengan semakin kondusifnya iklim bisnis. Pada kuartal II-2026, laba bersih TINS diproyeksikan melonjak 709% mencapai Rp1,5 triliun yang diperkirakan bakal mendongkrak harga sahamnya.
Berdasarkan hasil riset CGS International, kenaikan harga timah di LME sebesar 60% menjadi US$51,9 ribu per ton pada kuartal II-2026 menjadi pemicu utama melonjaknya laba TINS.
“Pendapatan diprediksi naik 131% menjadi Rp4,9 triliun pada periode tersebut,” tulis CGS, dikutip Rabu (22/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, sepanjang semester I-2026, laba TINS diperkirakan mampu mencapai Rp3 triliun. Angka tersebut setara dengan 58% dari total proyeksi setahun penuh CGS serta 119% dari konsensus analis.
Capaian tersebut melompat hingga 10 kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp300 miliar.
CGS menilai TINS mendapatkan keuntungan dari langkah tegas pemerintah dalam menertibkan kegiatan tambang timah ilegal. Kebijakan tersebut membuat total ekspor timah nasional mengalami penurunan sebesar 25% menjadi 19,4 ribu ton pada semester I-2026.
Meskipun demikian, volume ekspor TINS justru melonjak 113% pada kuartal II lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan ekspor nasional terjadi akibat terhentinya saluran ekspor ilegal, bukan dari produsen resmi seperti TINS yang kini menguasai 52% pangsa pasar ekspor timah di Indonesia.