JAKARTA – Wall Street ditutup menguat pada perdagangan hari Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Reli saham teknologi, terutama sektor semikonduktor, mendorong indeks saham Amerika Serikat menutup semester I-2026 dan kuartal II dengan kinerja yang impresif.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 136,46 poin (0,26 persen) ke rekor tertinggi sepanjang masa pada level 52.319,20. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,79 persen menjadi 7.499,36, sedangkan Nasdaq Composite melesat 1,52 persen ke 26.213,72.
Penguatan pasar dipimpin oleh lonjakan harga saham produsen cip. Saham Nvidia naik 2,6 persen, Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 7,7 persen, dan Intel menguat 6 persen.
VanEck Semiconductor ETF (SMH) naik lebih dari 3 persen, sehingga mencatatkan kenaikan sekitar 82 persen sejak awal tahun. Kinerja tersebut menutup perdagangan semester I sekaligus kuartal II tahun 2026 dengan hasil yang solid.
Sepanjang enam bulan pertama 2026, Dow Jones menguat 8,9 persen menjadi kinerja semester pertama terbaik sejak 2021. S&P 500 naik 9,6 persen, sedangkan Nasdaq memimpin dengan lonjakan lebih dari 12 persen.
Indeks Russell 2000 yang berisi saham berkapitalisasi kecil melesat hampir 22 persen, menjadi kenaikan semester pertama terbaik sejak 1991. Paruh pertama 2026 diwarnai volatilitas tinggi akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran serta kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Memasuki kuartal II, sentimen pasar membaik seiring meredanya kekhawatiran terhadap sektor AI dan meningkatnya optimisme bahwa konflik geopolitik mulai menuju penyelesaian. Hasilnya, S&P 500 melonjak 14,9 persen sepanjang kuartal II, sedangkan Nasdaq melesat 21,4 persen, menjadi kinerja kuartalan terbaik sejak kuartal II-2020.
Dow Jones menguat 12,9 persen, menjadi kinerja kuartalan terkuat sejak kuartal IV-2022. Chief Investment Officer Orion, Tim Holland, mengatakan bahwa laporan kinerja emiten masih menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar.
"Pelajaran terbesar pada semester pertama 2026 adalah bahwa laba perusahaan jauh lebih penting dibandingkan hampir semua faktor lain, kecuali mungkin suku bunga," ujar Holland, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak kembali memanas, tren bullish di Wall Street diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun. Holland menilai investor mulai mengalihkan dana ke saham-saham yang valuasinya lebih murah (value stocks), bukan lagi hanya berfokus pada saham-saham pertumbuhan (growth stocks).
"Perhatian dunia memang masih tertuju pada investasi AI, dan itu memang beralasan. Namun jika melihat lebih dalam, saham-saham value justru menunjukkan kinerja lebih baik sepanjang tahun ini, termasuk selama Juni," kata Holland, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Suku bunga yang diperkirakan tetap berada di level tinggi akan menjadi tantangan bagi saham-saham growth yang memiliki valuasi mahal. Sebaliknya, kondisi tersebut dinilai menguntungkan saham-saham yang sensitif terhadap siklus ekonomi dan memiliki valuasi lebih menarik.