Harga Minyak Dunia Jatuh, Indeks Saham Global Cetak Rekor Sejarah

Harga Minyak Dunia Jatuh, Indeks Saham Global Cetak Rekor Sejarah
Ilustrasi Indeks Saham Global (Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar saham di tingkat global mengalami lonjakan besar hingga berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada sesi perdagangan awal pekan ini. Lonjakan di pasar ekuitas tersebut terjadi secara bersamaan dengan momentum merosotnya harga minyak mentah dunia secara signifikan.

Pergerakan positif di pasar saham dipicu oleh adanya indikasi kuat dari para pembuat kebijakan bahwa Amerika Serikat (AS) kini semakin dekat untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran.

Nota perjanjian tersebut diproyeksikan bakal membuka kembali akses Selat Hormuz sekaligus memulihkan pasokan minyak mentah global, di saat nilai mata uang dolar AS terpantau sedang mengalami pelemahan.

Pada pasar kontrak berjangka, indeks S&P 500 membukukan kenaikan sebesar 1 persen dan indeks Nasdaq 100 melesat hingga 1,4 persen. Sementara itu, untuk aktivitas perdagangan di pasar spot keuangan AS dilaporkan tutup pada hari Senin sehubungan dengan adanya peringatan Memorial Day.

Nilai tukar dolar AS juga terpantau mengalami depresiasi terhadap seluruh mata uang utama dari negara-negara kelompok G-10. Di sisi lain, Indeks Dunia MSCI All Country didokumentasikan menguat sebesar 0,5 persen menuju ke level penutupan paling tinggi sepanjang sejarah perdagangan.

Untuk kawasan Eropa, indeks Stoxx 600 sukses mempertahankan penguatan selama enam sesi perdagangan berturut-turut dan berakhir di level tertinggi sejak meletusnya ketegangan dengan Iran. Meski begitu, volume perdagangan di bursa Eropa cenderung sepi akibat penutupan sejumlah pasar saham utama karena libur nasional, seperti di Inggris, Swiss, Norwegia, dan Denmark.

Di sektor komoditas, harga minyak mentah jenis WTI tergelincir lebih dari 6 persen ke kisaran angka US$90 per barel. Kejatuhan harga ini didorong oleh rasa optimisme para pelaku pasar bahwa adanya kesepakatan baru nantinya akan membantu normalisasi arus distribusi minyak lewat jalur vital di Timur Tengah tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pada hari Senin bahwa proses negosiasi yang sedang berjalan dengan pihak Iran berjalan dengan baik.

"berjalan dengan baik." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di saat yang sama, tim delegasi dari Iran dilaporkan bertolak menuju Doha guna menggelar konsultasi dengan jajaran pejabat senior Qatar berkaitan dengan pembicaraan damai tersebut. Agenda diskusi ini juga turut menyertakan pembahasan mendalam mengenai rencana pencairan dana milik Iran yang selama ini dibekukan.

Peningkatan pada sentimen risiko ini terjadi setelah melewati masa kebuntuan selama berminggu-minggu antara AS dan Iran, menyusul beberapa langkah diplomasi sebelumnya yang sempat gagal membuahkan hasil. Pasar saham global kemudian bergerak melesat yang disokong oleh harapan meredanya konflik di Timur Tengah, serta kembali bergairahnya antusiasme para pelaku pasar terhadap sektor teknologi kecerdasan buatan (AI).

Pada waktu yang bersamaan, tingginya level harga minyak serta isu inflasi sebelumnya sempat mendorong tingkat imbal hasil (yield) obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun belakangan. Strategis SEB, Dana Malas, mengemukakan pandangan bahwa tingginya selera risiko global yang melebihi perkiraan turut dipicu oleh adanya faktor ketakutan akan tertinggalnya momentum keuntungan atau FOMO yang kuat.

"Faktor FOMO yang kuat turut mendorong selera risiko global yang lebih tinggi dari perkiraan: investor tidak ingin tertinggal jika perang Iran berakhir sementara tema AI terus mengangkat pasar saham," kata Dana Malas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, indeks saham acuan di Italia sukses melampaui rekor penutupan tertinggi yang pernah tercipta pada tahun 2000 silam, yang digerakkan oleh reli pada saham-saham sektor energi dan semikonduktor (chip). Di Bursa Eropa, saham Delivery Hero SE melompat lebih dari 10 persen seusai mendapatkan penawaran akuisisi strategis dari pihak Uber Technologies Inc.

Nilai dari kesepakatan akuisisi terhadap perusahaan penyedia jasa pengiriman asal Jerman tersebut diperkirakan menembus angka sekitar 10 miliar euro atau setara dengan US$11,6 miliar. Kendati posisi AS dan Iran disebut kian dekat menuju kesepakatan resmi, Trump memberikan penegasan bahwa dirinya tidak akan bersikap terburu-buru dalam merampungkan perjanjian tersebut.

"Terburu-buru" sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menyatakan bahwa draf kesepakatan tersebut hingga kini masih berada dalam proses pengerjaan. Pihak pemerintah AS dipastikan akan memberikan ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya agar jalur diplomasi ini dapat membuahkan hasil positif.

Kepala Strategi Singular Bank Roberto Scholtes Ruiz menilai bahwa skenario terbaik yang paling mungkin terjadi tampaknya sudah diantisipasi dan tercermin ke dalam pergerakan harga di pasar setelah adanya lonjakan hari ini.

"Setelah pergerakan pasar hari ini, skenario yang paling mungkin tampaknya sudah banyak diperhitungkan pasar," ujar Roberto Scholtes Ruiz sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Roberto Scholtes Ruiz juga memberikan proyeksi bahwa akan muncul sebuah pola pergerakan tertentu di pasar begitu nota kesepakatan tersebut nantinya resmi ditandatangani.

"Karena itu, saya memperkirakan akan muncul dinamika ‘sell the news’ begitu kesepakatan benar-benar tercapai, dan saya akan menahan diri untuk menambah eksposur saham sampai kurva imbal hasil turun." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga saat ini, para pelaku pasar terpantau masih mengarahkan fokus perhatian mereka pada perkembangan data inflasi. Kondisi pasar sekarang telah sepenuhnya memperhitungkan potensi adanya langkah kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) sebelum pergantian tahun.

Situasi tersebut kian memperkuat ekspektasi pasar bahwa Gubernur The Fed, Kevin Warsh, dituntut untuk mengambil tindakan secara cepat. Pada pekan ini, publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS serta rilis data inflasi di kawasan Eropa akan menjadi indikator utama dalam membaca arah kebijakan suku bunga ke depan.

Warsh sendiri telah resmi mengambil sumpah jabatan pada hari Jumat lalu dengan membawa komitmen untuk melakukan reformasi terbesar dalam beberapa dekade terakhir di tubuh bank sentral AS. Trump memberikan penegasan bahwa ia menginginkan Warsh untuk menakhodai The Fed secara independen demi memulihkan rasa percaya dan meredakan kekhawatiran para investor.

Namun, pihak BlackRock Inc. justru memberikan pandangan sebaliknya, di mana mereka menilai bahwa The Fed sebenarnya mengantongi alasan yang cukup kuat untuk mengambil opsi pemangkasan suku bunga acuan ketimbang menaikkannya, di bawah era kepemimpinan baru Kevin Warsh.

Di belahan dunia lain, pemerintah China dilaporkan mulai meluncurkan program kampanye berskala besar guna memberantas aktivitas perdagangan lintas batas ilegal demi membendung laju arus keluar modal (capital outflow).

Otoritas Beijing mengeluarkan ancaman sanksi hukuman yang berat bagi broker populer, serta memberikan perintah tegas agar akun-akun yang terbukti tidak patuh segera dilikuidasi dalam jangka waktu dua tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index