JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026), meskipun tekanan jual investor asing masih berlanjut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG naik 0,72% ke level 6.206, dengan investor asing masih mencatatkan net foreign sell sekitar Rp1,07 triliun di pasar reguler.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas sektor, terutama saham-saham perbankan.
“Penguatan indeks didorong oleh sektor perbankan yang menjadi motor utama rebound pasar, meskipun investor asing masih melakukan aksi jual bersih,” ujarnya kepada Kontan, Senin (25/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sentimen global, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki fase negosiasi lanjutan.
“Kemajuan pembicaraan damai dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sentimen positif, meski masih ada perbedaan pandangan terkait uranium Iran dan kebijakan pungutan kapal,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara dari domestik, pasar merespons kebijakan pemerintah terkait mekanisme ekspor komoditas strategis melalui BUMN khusus, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Implementasi penuh kebijakan tersebut diundur menjadi 1 Januari 2027, dengan masa transisi dimulai pada pertengahan 2026 hingga akhir tahun.
“Kebijakan ini memberikan ruang penyesuaian bagi pelaku usaha sehingga mampu meredakan kekhawatiran pasar dalam jangka pendek,” tambahnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara teknikal, IHSG dinilai mulai menunjukkan indikasi rebound setelah mampu bertahan di area support penting.
“IHSG berhasil mempertahankan support di kisaran 5.900–6.100 dan berpeluang melanjutkan penguatan terbatas dengan target resistance di area 6.250–6.300,” ungkap Reza sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan pasar masih akan diwarnai volatilitas tinggi.
“Pasar masih menanti perkembangan negosiasi Iran-AS, efektivitas rebalancing MSCI, serta potensi aksi profit taking menjelang libur panjang bursa,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk perdagangan Selasa (26/5/2026), Reza merekomendasikan beberapa saham untuk strategi trading jangka pendek. Di antaranya, PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) dengan area beli di Rp1.350–Rp1.400, target Rp1.420–Rp1.455, dan stop loss di bawah Rp1.300.
Kemudian, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) di kisaran Rp2.350–Rp2.400, target Rp2.450–Rp2.500, dan stop loss di bawah Rp2.300. Serta PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dengan strategi buy on weakness di Rp590–Rp615, target Rp630–Rp655, dan stop loss di bawah Rp570.