Fokus pada Tiga Bisnis Inti, Cek Rekomendasi Saham ASII

Fokus pada Tiga Bisnis Inti, Cek Rekomendasi Saham ASII
Ilustrasi PT Astra International Tbk (ASII) (Foto: NET)

JAKARTA – Menyambut usianya yang bakal menginjak 70 tahun, PT Astra International Tbk (ASII) memanfaatkan momen ini untuk melakukan refleksi demi memperkokoh perkembangan perseroan sekaligus memproduksi nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan melalui peninjauan strategi secara total. Hasil akhir dari evaluasi strategis tersebut resmi dipublikasikan pada Senin (25/5/2026).

Melalui penataan ulang strateginya, Astra ke depan bakal memfokuskan perhatiannya pada portofolio bisnis utama yang mencatatkan performa solid. Bukan hanya itu, korporasi juga bakal mengimplementasikan strategi ekspansi yang lebih terarah pada sektor bisnis lainnya, sekaligus memperketat disiplin alokasi modal demi memacu peningkatan kinerja serta imbal hasil yang lebih maksimal. Upaya ini diterapkan dengan tetap mempertahankan titik keseimbangan antara pertumbuhan profit untuk jangka pendek, menengah, serta panjang.

Presiden Direktur Astra, Rudy, memaparkan bahwa berdasarkan rekam jejaknya, Astra mempunyai lini bisnis yang terdiversifikasi dan sanggup menyumbang nilai tambah bagi perseroan sampai detik ini.

"Seiring dengan perkembangan dinamika pasar, Astra mereposisi strateginya dengan memberikan fokus pada portofolio bisnis utama yang selama ini memiliki kinerja yang kuat, yaitu otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan," kata Rudy dalam keterangan resminya, Senin (25/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

ASII pun mempraktikkan strategi perluasan portofolio bisnis yang terfokus bagi sektor bisnis lainnya, serta mempertegas kedisiplinan dalam menempatkan modal. Secara umum, taktik ini diproyeksikan bisa memperkuat kualitas portofolio usaha sekaligus menaikkan efisiensi modal yang memicu pertumbuhan profit dan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

Ketika mengeksekusi peninjauan strategis tersebut, Astra mengukur tiap unit bisnis dari bermacam segi, termasuk mencermati tantangan pasar, maksimalisasi posisi strategis tiap usaha di dalam portofolio, prospek profit di masa depan, serta imbal hasil investasi.

"Ke depan, Astra akan fokus pada tiga bisnis utama tersebut yang berkontribusi sebesar 90% terhadap laba," ujar Rudy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bisnis Otomotif

Rudy menjelaskan unit bisnis otomotif tidak sekadar bertumpu pada penjualan unit kendaraan baru, melainkan terus memaksimalkan seluruh ekosistem otomotif Grup Astra yang masif yang telah dirintis selama berpuluh-puluh tahun, meliputi perdagangan kendaraan baru dan bekas, penjualan komponen, layanan purnajual, serta disokong oleh jaringan konsumen yang tersebar luas di seluruh Indonesia demi terus memperkokoh posisi Astra selaku pemain utama yang relevan di sektor otomotif.

Jasa Keuangan

Unit bisnis jasa keuangan bakal berfokus memaksimalkan seluruh potensi ekosistem lewat bermacam produk serta pelayanan untuk beraneka ragam segmen konsumen.

Alat Berat dan Solusi Pertambangan

Untuk sektor bisnis alat berat dan solusi pertambangan, korporasi bakal menitikberatkan pada penguatan ekosistem rantai pasok pertambangan sekaligus penciptaan ladang pertumbuhan baru demi mempertebal daya saing dan pembentukan nilai jangka panjang.

Mengenai portofolio di luar ketiga sektor utama tersebut, Astra bakal menjalankan taktik ekspansi portofolio bisnis yang terarah dengan mementingkan keselarasan strategis bersama ekosistem dan kompetensi Astra serta merajut kemitraan strategis demi melengkapi kapabilitas serta kebutuhan ekspansi jangka panjang.

Bukan itu saja, Astra bakal memperketatkan kedisiplinan dalam pembagian modal dan terus menggelontorkan belanja modal untuk keperluan pemeliharaan, penyaluran dividen yang stabil, investasi yang mendatangkan nilai tambah, serta mengeksekusi share buyback pada level valuasi yang proporsional. Adapun Astra juga memiliki agenda untuk menyiapkan dana berkisar Rp 8 triliun untuk program pembelian kembali saham sepanjang 12 bulan.

Kinerja Laba dan Dividen

Sepanjang sepuluh tahun ke belakang dari 2015-2025, keuntungan bersih Astra telah meroket lebih dari dua kali lipat dari Rp 15 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 33 triliun pada tahun 2025 atau melonjak sebesar 126%. Penyaluran dividen bagi para pemegang saham pun mengalami kenaikan 245% dari Rp 113 per lembar saham pada tahun 2015 menjadi Rp 390 per lembar saham pada tahun 2025.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, berpandangan bahwa tindakan efisiensi yang dieksekusi Astra ialah pilihan positif lantaran berpeluang memangkas beban ongkos dari sektor bisnis lain yang dipandang kurang maksimal performanya.

"Untuk investor, perlu wait and see, karena strategi boleh bagus, namun hasil akhir ada di laporan keuangan," ucap William kepada Kontan, Senin (26/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi Saham

Secara teknikal, William mencermati pergerakan saham ASII masih berada dalam tren turun (downtrend) dengan posisi support Rp 5.200 dan resistance Rp 6.000. Oleh sebab itu, William lebih merekomendasikan buy on weakness dengan target bertengger di Rp 6.000–Rp 6.400.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat posisi saham ASII masih tertahan di fase downtrend kendati pada transaksi Senin (25/5/2026) mengalami penguatan yang dibarengi dengan kehadiran volume beli.

"Indikator MACD masih berada di area negatif dan Stochastic mulai menguat ke area netral," tambah Herditya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Herditya memberikan rekomendasi untuk trading buy saham ASII dengan patokan tingkat support di Rp 5.450 dan resistance Rp 5.675, serta target harga berada di kisaran Rp 5.725-Rp 5.800.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index