FTSE Russell Depak Empat Emiten RI Bobot Indonesia Turun Jadi 0.86 Persen

FTSE Russell Depak Empat Emiten RI Bobot Indonesia Turun Jadi 0.86 Persen
Ilustrasi FTSE Russell (Foto: NET)

JAKARTA – Lembaga indeks global FTSE Russell resmi mengeluarkan empat emiten asal Indonesia dari daftar indeksnya. Keputusan tersebut tertuang di dalam pengumuman June 2026 Quarterly Review yang dipublikasikan pada Sabtu (23/5/2026).

Langkah ini diambil lantaran sejumlah emiten tersebut dinilai memiliki kepemilikan saham yang terlampau terkonsentrasi, tidak mampu memenuhi batas minimal saham beredar atau free float, serta berada dalam daftar pengawasan khusus sebagaimana dilansir dari berita sumber.

FTSE Russell mendepak PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kelompok emiten dengan kapitalisasi besar. DSSA sendiri merupakan perusahaan di bawah naungan Grup Sinar Mas yang beroperasi di sektor pertambangan, energi baru dan terbarukan, teknologi, serta bahan kimia.

Pihak FTSE menilai mayoritas saham DSSA hanya dikuasai oleh segelintir pemegang saham atau masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC). “Failed High Shareholding Concentration,” demikian bunyi pengumuman tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bukan hanya DSSA, FTSE Russell turut menghapus PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dari daftar emiten dengan kapitalisasi kecil. Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan nikel dan batu bara tersebut dinilai tidak berhasil memenuhi batas minimal saham beredar yang wajib dimiliki oleh publik serta bebas diperjualbelikan di pasar modal. “Failed Minimum Free Float Requirement,” demikian bunyi pengumuman tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dua emiten lain yang juga ikut didepak ialah PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). HILL merupakan perusahaan induk sekaligus kontraktor di sektor pertambangan nikel dan batu bara. Sementara itu, MLIA adalah perusahaan manufaktur, perdagangan, serta distribusi produk industri kaca.

FTSE Russell mengeluarkan HILL dan MLIA karena kedua emiten ini masuk ke dalam daftar pengawasan atau pemantauan khusus oleh otoritas bursa efek di Indonesia. Keduanya terindikasi memiliki aktivitas perdagangan yang tidak wajar. “Failed Surveillance stocks screen,” demikian bunyi pengumuman tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, memaparkan bahwa sebelum penyesuaian ini diterapkan, kapitalisasi pasar bersih (Net Market Capitalization free-float) dari 39 saham Indonesia pada kategori large cap serta mid cap tercatat sebesar US$ 91,01 miliar, yang merefleksikan bobot sebesar 0,88% dari total kapasitas seluruh saham large dan mid cap di negara berkembang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sesudah penyesuaian atas keluarnya DSSA dilakukan, bobot Indonesia mengalami penurunan dari 0,88% menjadi 0,86% sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Penurunan bobot tersebut berpotensi memicu outflow terutama bagi passive fund hingga tanggal efektif rebalancing 22 Juni 2026," ujar Ratih kepada Kontan, Sabtu (23/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ratih menjelaskan bahwa potensi dana asing yang keluar dapat menyentuh angka US$ 297 juta atau setara dengan Rp 487,8 miliar (dengan asumsi kurs rupiah sebesar Rp17.600/US$) secara khusus dari satu produk Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) dengan dana kelolaan (AUM) sebesar US$ 102,68 miliar per akhir April 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Akan tetapi, secara keseluruhan potensi outflow dari passive fund diperkirakan mencapai US$ 297 juta atau senilai Rp 5,2 triliun, dengan asumsi total AUM passive fund di negara-negara berkembang sebesar US$ 1,1 triliun sebagaimana dilansir dari berita sumber. Aliran dana keluar ini juga telah tercermin pada pergerakan IHSG, yang mana sejak awal tahun mencatatkan nilai sebesar Rp 53 triliun (23/5) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ratih memberikan saran kepada para investor untuk menghindari saham-saham yang berada di dalam pemantauan khusus BEI, termasuk HSC, serta saham yang belum mampu memenuhi ketentuan free float, namun masih tercantum di dalam indeks global sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk saham-saham yang didepak dari indeks FTSE juga sebaiknya dihindari terlebih dahulu hingga aliran dana keluar mereda sampai tanggal 22 Juni 2026 sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pilihlah saham yang ditopang oleh fundamental yang bagus serta mampu memberikan passive income berupa dividen di tengah terjadinya outflow pada pasar ekuitas domestik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Contohnya adalah BBNI yang memiliki valuasi rendah sejak tahun 2008 dengan rasio PBV saat ini berada di angka 0,88% sebagaimana dilansir dari berita sourcing. Selanjutnya, saham yang masih memiliki sentimen dividen positif seperti PTBA yang akan melaksanakan RUPST pada 11 Juni 2026 dengan potensi dividend yield mencapai 6,8% sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi Saham

Ratih turut membagikan sejumlah rekomendasi saham pilihan yang menarik untuk diperhatikan, di antaranya:

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 4.000 serta pertimbangkan support di level Rp 3.600 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 2.900 serta pertimbangkan support di level Rp 2.580 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rekomendasi: Buy on weakness dengan target harga pada resistance di level Rp 2.500 serta pertimbangkan support di level Rp 2.000 sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index