JAKARTA – Investor kakap Lo Kheng Hong kembali melakukan aksi beli terhadap saham properti PT Intiland Development Tbk (DILD). Aksi akumulasi ini terjadi di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang mengalami tekanan.
Lo Kheng Hong memborong sebanyak 15,17 juta lembar saham DILD, di mana harga pelaksanaan dari transaksi pembelian tersebut berada di level Rp129 per saham, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berdasarkan data dari keterbukaan informasi, nilai total dari transaksi pembelian saham DILD tersebut mencapai sekitar Rp1,95 miIiar. Transaksi ini sendiri telah rampung dilaksanakan pada perdagangan 4 Mei 2026.
Setelah penyelesaian transaksi tersebut, jumlah kepemilikan saham Lo Kheng Hong di DILD kini bertambah menjadi 733,68 juta lembar saham. Jumlah ini setara dengan 7,08% dari total seluruh saham yang beredar.
Langkah strategis Lo Kheng Hong untuk memperbesar porsi kepemilikannya ini dilakukan saat harga saham emiten properti tersebut sedang mengalami tren penurunan. Saham DILD tercatat sudah menyusut sebesar 10,22% secara year-to-date (ytd).
Pada penutupan perdagangan pekan ini, saham DILD berada di posisi Rp123 per saham. Pergerakan saham emiten ini memang kerap menjadi perhatian pelaku pasar modal setelah adanya aksi akumulasi oleh investor besar.
PT Intiland Development Tbk sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor properti. Lini bisnis emiten ini mencakup pengembangan kawasan perumahan, apartemen, perkantoran, kawasan industri, hingga properti investasi di Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya.
Di sisi lain, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat minus 22,25% selama periode tahun berjalan atau ytd. Sepanjang pekan ini, laju IHSG juga terperosok cukup dalam ke zona merah.
Pelemahan IHSG tercatat mencapai 246,07 poin atau merosot sebesar 3,53%. Penurunan ini membuat indeks berada di level 6.723 pada penutupan pekan. IHSG tercatat mengalami penurunan selama tiga hari beruntun.
Kondisi ini mengakibatkan total kapitalisasi pasar atau market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguap hingga mencapai Rp581 triliun.
Akibat dari penurunan beruntun tersebut, nilai market cap BEI saat ini turun drastis menjadi Rp11.825 triliun. Laju IHSG untuk perdagangan pekan depan pun diproyeksikan masih berpotensi melanjutkan pelemahan.
Terdapat beberapa faktor negatif yang mendorong pelemahan indeks, di antaranya adalah periode libur panjang. Selain itu, ada sentimen dari rebalancing indeks MSCI serta rencana pengumuman dari FTSE Russell.
FTSE Russell dijadwalkan akan mencoret saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) pada Juni mendatang. Faktor-faktor ini turut memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan indeks.
Phintraco Sekuritas menyampaikan analisisnya mengenai pergerakan indeks secara teknikal. Menurut analisis tersebut, pelebaran histogram negatif pada indikator MACD terpantau masih terus berlanjut.
Kondisi teknikal tersebut juga diiringi dengan pergerakan stochastic RSI yang mulai menuju ke area oversold atau jenuh jual. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang masih cukup kuat di pasar.
“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi uji level 6.700-6.650 pada perdagangan pekan depan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber, tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.