Cegah Penipuan Digital VIDA Rilis Fitur ID FraudShield Berbasis AI

Cegah Penipuan Digital VIDA Rilis Fitur ID FraudShield Berbasis AI
Ilustrasi Cyber Crime (Gambar: exabytes.co.id)

JAKARTA – Lonjakan kasus penipuan digital di tanah air membuka peluang besar bagi perkembangan sektor identitas digital dan keamanan siber.

Dalam kondisi di mana kerugian masyarakat mencapai angka Rp 9,1 triliun akibat kejahatan siber sepanjang periode November 2024 hingga Januari 2026, VIDA, perusahaan identitas digital asal Indonesia, meluncurkan ID FraudShield untuk memperkuat proteksi transaksi digital.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terlihat bahwa peningkatan ancaman siber semakin mengkhawatirkan.

Secara rata-rata, muncul kurang lebih 1.000 laporan terkait pengaduan penipuan digital setiap harinya. Malahan, sekitar 65 persen warga Indonesia dilaporkan pernah mengalami upaya scam minimal satu kali dalam satu minggu.

Menanggapi besarnya ancaman tersebut, VIDA menghadirkan ID FraudShield. Inovasi ini disiapkan untuk mendukung sektor keuangan dalam mendeteksi serta mengantisipasi penipuan identitas berbasis kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan bahwa mitigasi scam digital tidak dapat dikerjakan secara parsial. "Skala ancaman ini menuntut pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada kesempatan yang sama, Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menyampaikan bahwa skema serangan siber saat ini bertransformasi menjadi jauh lebih rumit.

Penjahat tidak cuma menggunakan manipulasi wajah atau deepfake, namun juga memakai emulator, GPS palsu, sampai rekayasa perangkat guna membobol sistem pertahanan digital. "Kami tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemeriksaan orangnya saja, tetapi juga harus memeriksa perangkat dan jaringannya secara simultan," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lewat ID FraudShield, VIDA berupaya mengembangkan model usahanya dari yang sebelumnya penyedia identitas digital menjadi platform terintegrasi untuk pencegahan fraud.

Sistem ini menyatukan berbagai lapisan proteksi, mulai dari pelacakan deepfake dan spoofing biometrik, pengamatan perilaku pengguna, identifikasi gawai ilegal, sampai pengawasan jaringan dan lokasi yang dianggap mencurigakan.

Salah satu fitur kunci yang diandalkan adalah “ID Graph” atau network intelligence, yang punya kemampuan mengaitkan data perangkat, dokumen, serta biometrik antarseksi untuk melacak pola kriminalitas terorganisir, termasuk identitas sintetis (synthetic identity), device farms, hingga akun penampung dana hasil penipuan.

Langkah ini dianggap krusial lantaran industri keuangan sekarang berada di bawah tekanan besar untuk meningkatkan keamanan tanpa menghambat pengalaman konsumen. Sektor perbankan, multifinance, fintech pinjaman online, asuransi, hingga penyedia pembayaran digital merupakan pasar utama yang disasar VIDA lewat solusi ini.

Dari aspek bisnis, melonjaknya kasus fraud digital juga memicu kebutuhan akan teknologi keamanan berbasis AI yang diprediksi akan terus meningkat beberapa tahun ke depan. Keadaan ini menciptakan peluang ekspansi bagi korporasi keamanan digital dalam negeri untuk berkompetisi di tengah masifnya transformasi layanan keuangan digital.

Niki menjelaskan bahwa penciptaan ID FraudShield dikerjakan setelah pihak perusahaan menjumpai banyak celah pada sistem liveness konvensional yang masih rentan terhadap serangan siber mutakhir.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index