JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,68 persen ke level 6.858,90 pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) akibat tekanan aksi jual masif oleh investor asing.
Pelaku pasar luar negeri mencatatkan penjualan bersih senilai Rp799,25 miliar di pasar reguler dan mencapai Rp931,89 miliar di seluruh pasar.
Pelemahan indeks ini juga dipengaruhi oleh sentimen negatif dari sektor kesehatan yang merosot tajam hingga 3,51 persen. Meski demikian, kenaikan saham Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar 14,86 persen dan sektor industri dasar yang tumbuh 1,85 persen sempat menjadi penopang agar indeks tidak terkoreksi lebih dalam.
Beberapa emiten besar mencatatkan rapor merah signifikan, seperti Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) yang anjlok 15 persen dan Astra International Tbk. (ASII) yang turun 3,31 persen. Di sisi lain, bursa global menunjukkan performa variatif dengan Dow Jones yang menguat tipis 0,11 persen, sementara Nasdaq terkoreksi 0,71 persen.
Koreksi pasar domestik ini terjadi bersamaan dengan langkah MSCI yang menghapus sejumlah emiten besar dari indeks global mereka. Emiten seperti Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes karena porsi saham publik yang dinilai terlalu terbatas.
Khusus untuk saham Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), MSCI memindahkannya ke kategori Small Cap Indexes. Sementara itu, 13 emiten lainnya termasuk Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) justru dicoret sepenuhnya dari daftar Small Cap tersebut.
Perubahan komposisi ini diprediksi akan memengaruhi arus modal asing hingga akhir Mei 2026 mendatang. Penyesuaian bobot saham pada bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan tanggal 29 Mei.
Di sektor korporasi, XL SMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) melaporkan kerugian bersih sebesar Rp716,27 miliar pada kuartal I-2026 akibat lonjakan beban integrasi jaringan pascamerger.
Namun, perusahaan mencatat kenaikan pendapatan sebesar 37,41 persen menjadi Rp11,82 triliun dengan margin EBITDA yang tetap stabil di angka 46 persen.
Sementara itu, GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun menggunakan kas internal.
GOTO dijadwalkan untuk meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB pada 18 Juni 2026 untuk merealisasikan rencana tersebut.