JAKARTA — Gejolak pasar yang dipicu oleh pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Juni 2026 dianggap justru memberikan peluang strategi buy on dip bagi para pemodal, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dengan fundamental yang kokoh.
Di tengah potensi fluktuasi pasar, beberapa analis mengamati bahwa investor asing mulai kembali mengumpulkan saham-saham unggulan yang valuasinya dianggap semakin menarik setelah mengalami koreksi tajam sejak awal tahun.
Selama pekan lalu, pasar modal Indonesia membukukan aksi beli bersih (net buy) asing senilai Rp12,26 triliun. Pencapaian positif tersebut berlangsung menjelang pengumuman MSCI yang akan memberikan perkembangan terkini terkait penilaian pasar saham Indonesia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa langkah beli asing tersebut menunjukkan antisipasi investor global untuk mengoleksi saham-saham berfundamental kuat di tengah tekanan.
"Akumulasi asing ini menjadi bagian dari strategi buy on dip karena IHSG sedang membentuk lower low," kata Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pandangannya, meskipun terdapat risiko sejumlah saham dalam daftar high shareholding concentration (HSC) akan dikeluarkan dari indeks MSCI, saham-saham blue chip tanah air masih dianggap memikat.
Investor asing dinilai melihat harga saham domestik sudah cukup terjangkau seiring dengan melemahnya IHSG sejak awal tahun ini.
Nafan memperkirakan saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBNI berpotensi menjadi target utama investor luar negeri.
Selain itu, saham berbasis hilirisasi mineral seperti ANTM, INCO, dan TINS juga terlihat menarik. Di sisi lain, sektor telekomunikasi dapat dijadikan pilihan defensif guna menghadapi volatilitas menjelang pengumuman tersebut.
Senada dengan itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa memandang bahwa catatan beli bersih asing dalam sepekan terakhir menjadi sinyal investor global mulai kembali melirik Indonesia.
"Saham yang paling banyak diburu asing masih didominasi big banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI karena fundamental dan likuiditasnya paling kuat di tengah volatilitas pasar," ujar Reydi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, berpendapat bahwa pola pergerakan saham menjelang pengumuman MSCI mulai terlihat dari daftar top leaders dan top laggards pada perdagangan Senin (11/5/2026).
Fath mencermati saham seperti INCO, MDKA, dan MBMA menguat berkat sentimen penundaan royalti minerba, sementara tekanan pada saham bank besar mulai berkurang.
"Pasar mulai rebalancing sebelum pengumuman. Saham-saham bluechip yang diekspektasikan bobotnya mungkin berkurang tidak signifikan di awal tahun mulai terefleksi. Di sisi lain, saham yang turun dan dihapus [dari MSCI] sangat terasa volatilitasnya. Bisa dilihat saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu beberapa turun cukup dalam," ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Fath memberikan peringatan bahwa masa perdagangan pada 12 Mei dan 13 Mei 2026 berpotensi menjadi waktu dengan volatilitas paling tinggi. Ia menekankan bahwa pengumuman kali ini berkaitan dengan perubahan konstituen serta pengurangan bobot saham Indonesia di indeks MSCI, bukan soal status emerging market.
Saham DSSA dan BREN disebut hampir pasti tereliminasi dari indeks karena masuk daftar HSC. Namun, Fath mengimbau agar investor tetap tenang menghadapi fluktuasi jangka pendek ini.
"Kalian yang punya posisi saat ini, terutama di saham-saham MSCI lebih tenang, karena volatilitasnya ini sifatnya short term," tutur Fath sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bahwa penurunan bobot Indonesia juga dipengaruhi oleh pelemahan IHSG hingga 21% secara tahun berjalan (year to date), depresiasi rupiah, dan penguatan bursa negara berkembang lainnya.
Fath memproyeksikan bobot Indonesia di MSCI berpotensi turun ke level 0,7%-0,8% atau lebih rendah dari sebelumnya di kisaran 1,2%.
"Kabar baiknya adalah kalau ini memang bobot terakhir dibanding tahun lalu, otomatis outflow yang diekspektasikan berkurang, karena bobotnya lebih kecil. Yang ingin kami dengar kali ini adalah perubahan foreign inclusion factor yang akan diumumkan MSCI yang pasti akan memengaruhi bobot-bobot yang ada di saham saat ini," jelasnya.
Menurut Fath, pemodal yang sudah memiliki saham dengan fundamental kuat tidak perlu merasa cemas secara berlebihan. "Volatilitasnya pasti tinggi. Investor tidak perlu khawatir. Ini hanya short term," pungkas Fath sebagaimana dilansir dari berita sumber.